Feb 26, 2011

Growing Pains

My grandparents' house rule includes a limited amount of time on watching TV/ day. I was fine with that. Why I know this? Because I cannot recall being so frustrated about wanting to watch TV or sneaking out of my bedroom to steal another ten minutes of time. However, I remember being glued on to the television set whenever this serial in on. Growing Pains, an American television sitcom about an affluent family, residing in Huntington, New York, with a working mother and a stay-at-home psychiatrist father raising four children together, and their adopted son.

The serial introduced me to the talented Leonardo Dicaprio (yes, I did collect his pin up posters back then), get me to sing the beautiful catchy soundtrack "As Long as We've Got Each Other," which was written and composed by both John Bettis and Steve Dorff, and got me to wish about having a big brother like- of course- Mike Seaver.

If you can tell me where can I get the dvds... Please..please..please?

The Seavers

Feb 24, 2011

Membawa Tuhan dalam Sampul

Ketika pemberontakkan semakin kehilangan muaranya
Ketika berita dan wacana lebih banyak memekakan telinga daripada menyercahkan harap
Saya memilih untuk membaca puisi-puisi tua, bermimpi masih ada negeri dongeng dengan kerubim dan tetua bijaksana di alamnya...

Ketika Tuhan dibawa-bawa
Untuk menjadi sampul pembenaran sebuah tindak anarki
Saya memilih untuk mendengarkan Dia lewat desir angin, melihat Dia di mata anak kecil saat mengagumi kupu-kupu, dan mengartikan gerimis sebagai airmataNya

Dia bilang, saya harus berdoa bagi yang mengkhianati saya
Dia bilang, saya harus sodorkan pipi yang lain saat ditampar
Dia bilang untuk tetap percaya dan jangan takut walau saya sedang melewati lembah kekelaman
Dia yang Esa. Yang Maha.

Kalau Dia kuasa berkata seperti itu
Apakah mungkin Dia perlu lagi dibela?

February 2011

Jan 21, 2011

Annoyed God

ps: Be thankful this is not our God.

When it’s raining cats and dogs as you wake up in the morning- bear in mind that some part of the area is celebrating the fact that they can now work on their soil. So, stop documenting your laziness or yelling at the sky to magically turn into a clear blue-, just so that you can have a more convenient commute from home to work. Grab a hoodie, spring an umbrella, call a cab or text a friend so you can tag along… Don’t nag about the weather. It is still okay to do it in your social soiree, but its just too damn old for me.

When the parking lot is packed and you are already late for a meeting, a "sake" period , a date- or maybe to see Me… Do not cry for my help. In case you didn’t know, I am nowhere near the parking gate, and I can assure you I don’t look like one valet officer …
And next time- try to come earlier, maybe on time at least. The saying of “God I’m late…please help me to get a parking spot…” Irritates me.

When it comes to giving your creator the offering, why do you always have to look for a smaller change? You can even stepped out of my house …(Yes, My house) for a few minutes, buy a candy- , or cup of coffee so that you can stay awake and most importantly so that the 100.000 notes will not end up in my throne? Give a smaller change to god, that's about right.
But that’s okay, next time when you are begging for a blessing, allow me to leave you for a while too look for a job, money, or anything that suits your generosity. I know you will understand.

When a young heart wants to come to serve me, you stopped him… You think my servant  has no legitimate future, I understand. You have this long line history of doctors and lawyers in your family. A future God's servant? Maybe not.
But let me tell you... do not send the ex drug addict over again...please.... You take the job of a God’s servant so low that you think a wreck is just good enough. It is because of parents like you- I now require a perfect man with an above average aptitude, no record of health failures, not a cancer survivor,  and holds a kicking degree from a so called university to serve me. So your number xx son or daughter is just not good enough for me. Not even close.

And now if you’ll excuse me, I have better godly things to do.

Sincerely,
Annoyed god

From Cartoonstock

(when I finished writing this story, I cringed- knowing that I have done at least one of the above, so yes, this is inspired by my personal experiences and flaws)




Jan 19, 2011

Good Start

I know they still have long way to go in parenting world. But I can say that they have started the force in a good way. Things I can learn from when someday I have my own kids ;)
Here are some reasons why.

They introduced him to sport since the very beginning
and housekeeping too!

They allow him to dress up as madly as he can be
see?
Let him finish his math work,
read the classic Indonesian children magazine; Bobo
and not to let a sunny day go by without playing outsize (with his Dad)

and oh, they never say no to dancing under the rain too!
Isn't he a happy healthy baby boy?

Jan 11, 2011

Perempuan dan Angka- (Tiga Puluh Satu)

Buat kebanyakan mahkluk perempuan- bicara angka memang perkara susah-susah gampang. Bukan gampang-gampang susah, karena lebih banyak susahnya daripada gampang.

Soal berat badan misalnya, mengurangi 5 kilogram dari berat badan sesungguhnya saat harus mengisi kolom berat badan :, adalah hal biasa dilakukan. Saya pernah begitu, di usia saya yang saat itu seharusnya masih belum pantas untuk khawatir dengan persoalan satu ini.
Sibuk-sibuk cari timbangan, lalu menyalahkan jarum dan penempatannya. Kalau timbangannya digital, lalu menteorikan bahwa itu lebih cocok untuk barang, bukan orang, khususnya bukan untuk bukan perempuan.
Tak jarang, gara-gara timbangan, kita lalu sibuk mengatur pola makan, dan membuat janji dengan pusat kebugaran. Janji-janji yang dalam tiga bulan sudah terlupakan.

Angka lain, seputar uang. Kenapa saat penghasilan kita lima rupiah, kita bisa-bisanya menghabiskan enam rupiah- alias berhutang… Lalu kita bernazar bahwa kalau kita bisa mendapatkan upah sepuluh rupiah,pasti kita bukan hanya bisa bayar hutang, tapi juga bisa menabung. Dan pekerjaan dengan upah sepuluh rupiah itupun datang. Bersamaan dengan gaya hidup kita yang entah kenapa tiba-tiba jadi memerlukan biaya sebelas setengah rupiah. Bertambahlah si utang, bukan tabungan…

Dan angka yang menempati peringkat pertama dalam hal kecanggungan adalah.. soal usia. Dulu, setiap kali kalender sudah menunjukkan betapa dekatnya kita ke hari jadi… bukan main senangnya hati. Karena itu berarti, hadiah, kue, balon berwarna ditengah pesta kecil sudah menanti. Sekarang? Anggaran harus disiapkan khusus untuk penuntut perayaan, check list resolusi harus diam-diam disembunyikan karena lebih banyak yang gagal dibanding yang berhasil dicapai… Belum lagi, jawaban-jawaban pamungkas atas pertanyaan klise.. “Kapan menikah?.. Kapan punya anak?...”Atau mungkin.. “Kapan menikah lagi?

Dengan dalih tak mau lagi bersusah-susah gampang dengan angka. Saya merenungi ini.

Saya baru saja melewati hari jadi… 31 tahun sudah Tuhan memberikan saya kesempatan untuk menggenapi citraNya. Dan 31 tahun sudah saya lebih banyak jatuh dan meraung daripada melenggang dalam kemenangan.

Saya mulai berkaca, melihat tanda-tanda penuaan yang katanya biasa muncul di umur ini…

Ada kerutan dibawah mata- artinya.. sekalipun saya tak jarang menangis, saya masih lebih banyak tertawa…
Saya melihat hidung saya masih pesek seperti adanya.. artinya, sampai saat ini saya masih percaya saya adalah maha karya Tuhan saya yang luar biasa. 

Ada dua jerawat mungil yang muncul di area dagu- akibat terlalu banyak makan penganan coklat- yang membuat saya sadar bahwa saya hidup dengan kelimpahan…bukan cuma bisa makan sesuap nasi.

Sejak menetap di pulau Bali, kulit saya tak lagi kuning langsat, cokelat warnanya sekarang. Beruntungnya saya karena saya sehat sempurna, bisa bermain-main di pantai, dibawah curahan matahari, kapanpun saya mau.

Pinggang saya tidak berlekuk seperti gitar spanyol dan lengan saya tidak sesempurna lengan Madonna...artinya saya cukup punya waktu untuk memperkaya diri dengan meludesi buku-buku saya, menulis, atau bersenang-senang dengan kawan dibanding mengejar jam latihan di pusat kebugaran.

Saldo tabungan saya masih jauh dari target, artinya saya menikmati hidup ini dan masih dipercaya Tuhan untuk berbagi berkat dengan saudara-saudara saya yang lain, yang Tuhan titipkan untuk berada di sekitar saya…

Yang paling penting, di usia 31 ini, entah kenapa saya lebih ingin banyak berterima kasih-mungkin karena sadar sudah terlalu banyak meminta… Buat semua Cinta yang sudah Tuhan beri…
Buat setiap kegagalan saya yang membuat saya semakin tak ingin melepaskan pegangan tangan saya dari Dia… Buat setiap prestasi yang saya sadari hanyalah alat untuk membuktikan kemuliaan namaNya.

Dan untuk semua orang-orang yang telah pergi, dan hadir dalam hidup saya.

Besar kecilnya angka, yang saya tau...saya, diberkati.

January 2011

One of my greatest reasons to be grateful
(see the frame next to my pc)

Dec 30, 2010

Nilai Sepuluh

Tuhan yang baik,
Kemarin aku membawa pulang nilai sepuluh dari sekolah. Untuk mata pelajaran yang paling kubenci, Biologi. 
Hatiku sesak penuh kebanggaan dan tak percaya kerja kerasku menghapal nama latin hewan dan tumbuhan membuahkan hasil gemilang. Jadi aku berlari pulang, dengan tas berguncangan di punggung, dan kertas ulangan berkibar di tangan kanan. Aku tak sadar kalau tali sepatuku lepas, dan pastinya tak heran lariku berakhir dipinggir comberan karena aku terjerambab. Untung kertas ulanganku aman dalam genggaman. Harus kupamerkan pada ibu.
Supaya hilang kernyitnya yang mengganggu.

Kalau nilai sepuluh untuk Bahasa Indonesia, aku sudah biasa Tuhan...
Kata Ibu itu pelajaran yang nyaris sia-sia belaka karena toh aku sudah pasti bisa bicara bahasanya. 
Tapi aku cinta kata-kata. 
Aku selalu lapar akan puisi, majas, pantun bahkan cerita drama panggung. 
Ibu bilang itu percuma, karena aku tak akan kenyang dan kaya kalau bercita-cita jadi sastrawan. 
Sastrawan biasanya hanya akan jadi pecinta tapi lalu pergi tanpa memberi tunjangan. Kalau ceracau Ibu sudah sampai situ, terpaksa kusembunyikan dulu catatan puisiku, lalu memelototi buku matematika, dan pelajaran gila lainnya. 

Mungkin Ibu jadi ingat ayah, karena ayah suka baca puisi dan pandai melukis. Ayah…seniman yang membuat cinta Ibu sampai kelangit ketujuh lalu hancur lebur sampai lapisan tanah paling bawah…  
Yang pamit pergi karena cintanya pada ideologi dan kebebasan ternyata lebih besar daripada pengabdiannya pada  keluarga.

Tapi Tuhan, 
Ibu tak nampak saat aku sampai rumah. Pintu kamarnya terkunci rapat tanda Ia sedang tak ingin berurusan dengan apapun, baik kabar baik atau buruk. Jadi aku diam saja. Tak berani mengetuk.
Tapi, aku tak sabar Tuhan...jadi kupaksakan melongok dari jendela. Hal yang sudah beribu kali Ibu larang. Aku nakal katanya. Tapi aku bukan mau mengganggu, aku cuma mau menceritakan prestasiku ini pada Ibu. Aku dapat nilai sepuluh!

Sekali lagi, kalau untuk pelajaran bahasa, buatku nilai sepuluh sudah biasa. Ini untuk pelajaran Biologi... Tuhan… Biologi! Ibu pasti bangga, pasti dia senang dan bisa mulai berceloteh dengan khayalannya bahwa aku bisa jadi ilmuwan. 
Jadi aku nekat mengintip, habis sudah hampir dua jam aku menunggu.

Ibu murka besar ketika dilihatnya hidungku menempel dikaca jendela. Merah sempurna telinga caplangku dijewernya, lebam keunguan kaki dan tanganku dibuat tali pinggangnya… Ada teman Ibu dalam kamar. Laki-laki. 
Dan aku sangat membuat malu karena mengintip. Teman ibu seperti sedang meneliti tubuh ibu dari ujung kepala sampai ujung kaki. 
Tak kunjung aku mengerti untuk apa dan aku heran kenapa Ibu terlihat geli tertawa.

Saat Bik Nah menghapus airmataku dan mengolesi lebamku dengan minyak, kuceritakan padanya apa yang kulihat dengan kalimat terbata-bata. Bik Nah bilang Ibu sedang sakit dan ia sedang diperiksa oleh teman barunya itu. Teman Ibu itu dokter, kata Bik Nah… Sungguh aku tak tahu kalau Ibu sakit Tuhan, dan sumpah aku tak mau mengganggu. Aku hanya mau kasih tau Ibu kalau aku dapat nilai sepuluh. 
Kalau aku belajar terus, aku bahkan juga bisa jadi dokter, jadi biar aku yang memeriksa Ibu kalau ibu sakit… tidak perlu temannya yang dokter itu.

Tolong Tuhan, tolong buat aku pintar... aku mau jadi dokter… 
Janji tak mau lagi sembunyi-sembunyi menulis puisi dan maaf karena  ini mungkin akan jadi surat terakhirku untuMu…kalau perlu, kubakar semua sisa-sisa buku ayah…
Aku mau belajar keras untuk jadi dokter. Buat aku, buat Ibu, bahkan Bik Nah kalau perlu. Terutama karena Bik Nah sudah begitu baik mau membersihkan kertas ulanganku dari sisa tanah dan airmata…

Kertas ulangan biologiku Tuhan, kau masih ingat kan? Yang nilainya sepuluh…

TSB-akhir 2010
Untuk semua alasan dari sebuah cita-cita

Dari artikel yang menginspirasi tulisan saya

Dec 22, 2010

Aku memanggilmu Ibu

Matanya besar seperti mata rusa. Suaranya keras, kuat tapi tidak memekakkan gendang telinga.Wajahnya sarat cerita, senyumnya meneduhkan. Ia sendiri, sejak sepuluh tahun lalu ditinggal lelakinya untuk perempuan lain. Lelaki yang menjanjikan kesetiaan sampai maut mengetuk.
Ia tegar sekaligus lembut, tetapi berbatin kuat. Dan selama sepuluh tahun ia berusaha menyembunyikan airmata, tak sekalipun serapah mengenai lelaki itu kami dengar keluar dari mulutnya. Selama sepuluh tahun ia mendera ketidakmudahan, tak sekalipun kami diajarinya mengutuki nasib. Katanya ia dulu penakut, tetapi sejak memiliki kami, ia harus jadi orang yang pemberani.Katanya ia dulu lemah, tapi demi kami ia belajar kuat. Sakit kami sirna kalau terkena sentuhannya, lapar, letih dan iri pada kehidupan lain menguap tak berbekas kalau melihatnya menanti kami dirumah.
Ia perempuan yang sepertinya cukup susah untuk bisa kuteladani.
Aku panggil dia Ibu


Sudah lebih dari setengah abad kakinya yang kasar dan, dan tangannya yang berkerut itu berjibaku kebajikan di bumi ini. Setengah dari hidupnya, adalah untuk kami bertiga. Ia dan pasangan jiwanya yang sampai saat ini masih seperti sepasang merpati.
Ia penuh kearifan tanpa perlu sering berpetuah. Dekat dengan penciptanya, tanpa harus selalu duduk paling depan dalam rumah ibadah.
Ia tak pandai memasak, tak bisa menjahit, tak suka basa-basi. Tapi tanpanya, tak mungkin kami lewati bencana dan kehancuran, tak mungkin kami kuat menghadapi cobaan, dan mungkin kami sudah lama akan menjauh dari Tuhan. Ia tak bisa memiliki keturunan, maka ia menjemputku, kakak dan adikku dari sebuah rumah penampungan, Karena ia punya cinta yang besar, dan tak mungkin kalau hanya ia simpan sendiri.
Sejak saat itu, aku memanggilnya mama.


Beberapa waktu lalu, kanker ganas memaksa tubuh ringkihnya untuk menyatu dengan tanah. Kembali menjadi abu. Tak satupun harta yang ia tinggalkan, karena hidup kami memang penuh perjuangan kalau sudah menyangkut soal uang. Tapi ia juga tak meninggalkan hutang untuk kami jadikan alas an untuk mengilang keringat… Ia pergi tetap dengan keanggunan yang sejak dulu ia miliki. Ajarannya tentang kejujuran, ucap syukur dan kasih sayang memenuhi hati kami dengan penuh kesesakan. Ia yang selalu tau kapan belaiannya dibutuhkan, yang tau kapan harus bicara-kapan lebih baik diam… Yang tak pernah berkerut kening bahkan saat keputusan yang kami ambil tak sejalan dengan timbang pikirnya… Ia yang akan selalu ada dibalik pintu saat kami tak kuasa mengetuknya… Ia, kupanggil Inang, yang sudah dalam kedamaian abadi bersama penciptanya…


Untuk semua perempuan yang pernah mempertaruhkan nyawa untuk  darah dagingnya-atau bukan-
Selamat Hari Ibu… Semoga suatu saat nanti, dapat kami patuhi teladanmu baik satu atau dua…
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...