Showing posts with label Kartini. Show all posts
Showing posts with label Kartini. Show all posts

Apr 21, 2026

Kartini and other Indonesian Heroines


Photo from Kompas.com

Kartini's name slots so neatly into W.R. Supratman’s lyrics, “Ibu Kita Kartini,” you’d think the song was composed with her in mind. Her contribution to Indonesian women’s emancipation is so fragrant it perfumes the national memory — and one fragrant by‑product is the very freedom I have to write these words. Celebrating Kartini each year is well deserved, but doing so needn’t blind us to other heroines whose stories remain stubbornly hushed.

What’s often overlooked is that Kartini is Exhibit A for a simple truth: a woman’s access to knowledge and renown depends heavily on location, culture and class. Fortunately, Kartini used her privilege with admirable purpose.
Because of her position, it’s not fanciful to say she was, in part, a figure “made” by the Dutch. Her readiness to criticise was shaped, to some degree, by Dutch education she could access as an aristocrat.
At the time the Netherlands pursued an “ethical policy” — in plain terms, a politics of owing favours. The message became: Indonesian women who wished to progress must embrace Dutch education and the modes of thought it taught.

Through her letters, Kartini documented the oppression she endured in a rigidly patriarchal, feudal world. Her ideas were revolutionary, yet she never quite had the chance (or perhaps she held back) to realise them fully. A critic of polygamy, she was nonetheless compelled to become the fourth wife of the Regent of Rembang.

Still, Kartini rightly ranks among Indonesia’s national heroes.

Regrettably, her commemoration is often reduced by commercial interests to marketing slogans and shopping sprees.

So let us ask: why only Kartini Day? Why not an Indonesian Heroines Day?

That would prompt other names to rise into view.



1. In Aceh stood Cut Nyak Dien — a war commander whose slippery tactics baffled the Dutch.
2. Rahmah el Yunusiyah of West Sumatra founded schools for girls and refused Dutch subsidies to avoid colonial influence; Minangkabau has long produced female educators who rejected colonial aid.
3. Dewi Sartika in West Java established girls’ schools that taught equality.
4. How many realise that Rasuna Said — whose name graces a major thoroughfare — was a fiery emancipation activist who fiercely condemned injustice?
5. Keumalahayati, an Acehnese naval commander, led some 2,000 Inong Balee (war widows) in attacks on Dutch ships and forts in 1599; she is said to have slain Cornelis de Houtman in single combat.


Do add other names you recall — I’d love to hear them.


Kartini, as in her book "Duisternis tot Licht", was indeed a light after darkness.


But who else carried that light? Don’t they deserve celebration, too?


21 April is not a public holiday, yet the revelry persists: traditional dress, competitions — amusingly, or cringeworthy, many involve cooking in high heels — cheered in towns and schools alike.

To a point, darkness has yielded to light.


Which means today we have an opportunity. Even if we don kebaya and join the festivities, we can use the moment to share the stories of other heroines.


Today we have a new story to tell our children, girls and boys alike.

Today and tomorrow we are better placed to use that light as a lantern to illuminate the struggles of other women.


Thank you for the fight, Kartini. We’ll take the torch from here.


On 21 April 2026, yours truly would like to add:

Here’s to the young girls torn from their families by Dai Nippon (1942-1945) — harried, violated and cast away on Buru Island; some never found their way home.

(Ref: Perawan Remaja Dalam Cengkeraman Militer)


(The Indonesian version can be read here:here)

Mar 6, 2024

Siapa Lagi Selain Kartini?

Nama harumnya memang pas sekali menjadi lirik lagu ciptaan W.R Supratman, "Ibu Kita Kartini". 

Dan tentu, jasanya jelas bisa kita nikmati. Keleluasaan saya menulis artikel ini adalah salah satunya. 

Bicara mengenai Kartini dan merayakannya adalah baik. Namun lebih baik kita turut serta membicarakan berbagai hal mengenai pahlawan perempuan Indonesia, yang ceritanya nyaris tak terdengar.

  1. Yang jarang diakui, Kartini adalah exhibit A dari sebuah kenyataan: Pengetahuan perempuan dan kesohorannya sangat bergantung pada politik lokasi, budaya, dan kelas. Untungnya, Kartini menggunakan privilege yang Ia miliki dengan benar
  2. Karena posisinya itulah, bukan tidak mungkin Kartini juga adalah tokoh yang “diciptakan” Belanda. Keberaniannya mengkritik sedikit banyak merupakan pengaruh pendidikan Belanda yang dapat Ia kecap karena Ia adalah keturunan bangsawan
  3. Belanda saat itu gencar melakukan politik etis. A.k.a politik balas budi. Munculah “story” bahwa perempuan Indonesia kalau mau maju harus ikut pendidikan Belanda; harus memiliki pemikiran seperti yang diajarkan Belanda. Menjadi "Public Relations." Belanda?
  4. Lewat sura-suratnya, Kartini berhasil mendokumentasikan pengalaman ketertindasannya sebagai perempuan yang hidup dalam kentalnya dunia patriarki dan iklim feodal. Pemikirannya revolusioner, tapi Kartini tidak sempat (atau urung?) melaksanakan apa yang menjadi pikiran-pikirannya
  5. Penentang poligami ini, juga akhirnya terpaksa menjadi istri ke empat Bupati Rembang 


Tetap, Kartini layak masuk dalam jejeran pahlawan Indonesia. 

Walau sayang, perayaannya kini justru banyak dijadikan judul promosi dan alasan untuk berbelanja saja oleh berbagai bidang usaha.

Yang perlu kita kritisi, kenapa hanya ada Hari Kartini? 

Kenapa bukan Hari Pahlawan Perempuan Indonesia

Sehingga nama-nama berikut ikut terbayangkan aroma harumnya.


 

  1. Ada Cut Nyak Dien dari Aceh. Seorang panglima perang (ya, Panglima Perang) yang strateginya licin dan sulit ditaklukan Belanda
  2. Rahma el Yunusiyah dari Sumatra Barat berhasil mendirikan sekolah untuk perempuan dan menolak subsidi karena tak ingin adanya influence dari bangsa penjajah. Di tanah Minang memang banyak melahirkan perempuan pendidik yang menolak bantuan dari Belanda dalam mendirikan sekolah
  3. Dewi Sartika dari Jawa Barat. Ia mendirikan sekolah-sekolah khusus perempuan yang di dalamnya mengajarkan nilai-nilai kesetaraan
  4. Lalu, berapa banyak dari kita yang tahu bahwa Rasuna Said yang namanya dijadikan nama jalan protokol, adalah seorang perempuan pejuang emansipasi yang orasinya keras menentang ketidaksetaraan?
  5. Keumalahayati. Panglima Perang Aceh yang memimpin 2000 orang Inong Balee (janda-janda perang) menyerang kapal-kapal dan benteng-benteng Belanda pada tahun 1599. Pada pertempuran satu lawan satu, Malahayati berhasil membunuh Cornelis de Houtman
  6. Silakan sumbang nama lain yang kalian ingat. Saya mau mendengarnya!


Kartini, seperti bukunya "Duisternist tot Licht", memang seperti terang yang terbit setelah gelap. Namun, siapa lagi yang sesungguhnya juga membawa terang tersebut? Bukankah mereka layak juga dirayakan? 


21 April memang bukanlah tanggal merah, Tetapi, gempita perayaannya begitu terasa dari masa ke masa. Pakaian adat, lomba ini itu yang lucunya sering berkenaan dengan keahlian memasak sambil memakai sepatu hak tinggi, terdengar disoraki riang di berbagai tempat.


Dalam konteks ini, gelap memang sudah berganti terang.


Artinya hari ini, kita punya kesempatan. Kalaupun mungkin harus berjalan dengan balutan kebaya ala Kartini dan hadir ke perayaan tadi, mungkin cerita tentang pahlawan perempuan lain bisa kita bagikan pada sekitar.



Hari ini, kita punya cerita baru untuk anak kita, perempuan dan lelaki. 


Hari ini dan esok, kita telah lebih berdaya untuk memakai terang tadi sebagai pelita yang menyoroti cerita perjuangan dari perempuan-perempuan lain.


Thank you for the fight, Kartini. We’ll take the torch from here… 


Ilustrasi Lee Man Fong




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...