May 14, 2011

Perempuan Pembelajar

Sedikit berbagi.
Banyak yang mempertanyakan dari mana ide-ide saya berasal, dan lebih jauh lagi menebak bahwa saya memiliki kepahitan di masa lalu dan hendak menyuarakan lagi soal feminisme, atau bahkan mencurigai saya akan membentuk komplotan sexist di masa yang akan datang.
Saya jadi membayangkan, akan mengundang Eve Ensler sebagai pembicara, menyebarkan traktat karya De Beauvoir dan meminta semua perempuan jangan berdandan cantik dan sexy lagi . Lucu juga.

Tapi begini….
Terlepas dari mana yang benar dari semua dugan diatas, tidak pernah terlintas di benak saya untuk mewakili suara seluruh perempuan di dunia ini. Perempuan sekarang jauh lebih kompleks, jauh lebih berwarna-warni dan saya tahu pasti saya belum punya cukup pengalaman, kebijakkan ataupun pengetahuan untuk bisa merangkum semua itu menjadi satu atau dua alinea dalam puisi pun cerita pendek yang saya lahirkan. Saya masih terlalu mentah untuk bisa menggurui, dan saya termasuk Perempuan yang berbahagia dengan kehidupan ini. Mungkin karena saya sudah terbiasa menyuarakan pendapat, mungkin karena saya memang hidup di tengah-tengah keadaan yang menyenangkan, yang kalau dipikir-pikir, memang kita sendiri yang menentukan.

Semua tulisan ini, adalah proses pembelajaran. Bisa dari kehidupan saya pribadi, teman, lawan, atau kejadian terkecil sekalipun atau bahkan binatang dan alam. Tidak ada usaha men doktrin, karena bisa saja saya akan sampai pada kebijakkan atau pemahaman baru beberapa tahun mendatang. Dan semua catatan ini hanya akan jadi pengingat saya akan apa yang sudah, belum, atau yang harus saya pelajari berkali-kali macam mata pelajaran Matematika dulu.

Kadang sedikit nyeleneh itu perlu, supaya hidup tidak membosankan, asal jangan terlalu sering. Bicara sedikit keras juga dibutuhkan, kalau sekitarmu memang menunjukkan tanda-tanda tuli. Tapi saya tidak mengatakan inilah bentuk dunia keseluruhan, tidak mengatakan pengaplikasiannya bisa dilakukan dimana saja. Banyaknya Lelaki yang melecehkan Perempuan mungkin sama banyaknya dengan Perempuan yang tidak menghargai Laki-laki (atau paling tidak Perempuan yang membiarkan pelecehan itu berlangsung), dan artinya persamaan itu menjurus pada masih banyaknya mahkluk bermutu dari kedua habitat Adam dan Hawa tadi. Saya percaya itu. Hanya karena kita mahkluk yang berbeda, jelas ciri dan indikasinya lain. Dan bukan itu yang sedang kita bahas disini.

Saya masih belajar. Mungkin kamu juga. Dalam proses pembelajaran ini, bukankah lebih menyenangkan kalau kita tidak saling terlau banyak menganalisa dan menghakimi?.
Salam.


"On the day when it will be possible for woman to love not in her weakness but in her strength, not to escape herself but to find herself, not to abase herself but to assert herself--on that day love will become for her, as for man, a source of life and not of mortal danger."
— 
Simone de Beauvoir

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...