Showing posts with label Writer. Show all posts
Showing posts with label Writer. Show all posts

Jun 16, 2026

Bedah Karya: Buku "Untuk Perempuan Biasa"

Saya bersama Setara Sejahtera menyapa kembali 👋🏽

Kali ini dalam Bedah Karya: "Untuk Perempuan Biasa."





Dari beberapa isu Perempuan yang menjadi topik buku Untuk Perempuan Biasa, perbincangan kita hari ini akan berpusat pada:


1. Anggapan bahwa perempuan harus bisa dan mau punya anak
2. Menyoal pekerja seks komersial
3. Stigma anak Perempuan lebih cepat dewasa (?)

Mari bagikan pandangan teman-teman soal hal diatas.
Jika belum baca bukunya, bisa pesan di @bukunesiastore !

In @sukkhacitta and @awesomelasem

💙❤️
#tressabelwrites
#setarasejahtera
#untukperempuanbiasa

Mar 30, 2024

Beribu Surat

Setelah melewati proses penyuntingan yang cukup panjang, akhirnya buku “Beribu Surat” terbit! 


Buku ini adalah antalogi tulisan dengan pesan beraroma feminisme dari bumi Indonesia.
My work, karya saya berjudul “Surat Dari Janda” bisa ditemukan di halaman 297.


Tulisan tersebut sarat akan cerita dan harapan untuk mendobrak stigma negative kaum janda yang masih negative di mata masyarakat.

Pesan lewat @peretas_id atau @marjinkiri


Penerbitnya, Peretas (Perempuan Lintas Batas) dan Marjinkiri serta semua penulis yang karyanya dimuat dalam buku ini, berderap bersama untuk menyuarakan feminisme lewat sastra dan seni.

Pemesanan bisa lewat @peretas_id atau @marjinkiri
Kiranya bisa dinikmati.

#rewritetherules


Jan 8, 2019

Janji Pertemuan dengan Dosa

Mungkin sejenak saja akan aku luangkan
waktu untuk bersapa denganmu malam ini

Di tengah keramaian atau di pucuk sepi yang gamang



Mungkin hanya jentikkan jari saja

Yang akan melegalisir perjanjian kita

Mungkin lembaran kertas yang sering membuat mata hijau itu

akan sekali lagi menganggukan kepalaku



Lalu kau akan bergerak lebih cepat

mengancingkan kemeja setelah terlebih dahulu memutar kedua bola mata

mencari-cari celana yang entah kenapa mendadak berkelana di bawah ranjang sana



Kau pikir alasanku cuma satu

lambung ini terlalu sering mengilangi perih dan asam

Atau aku hanya sekedar rindu hidup dengan harta yang gemilang



Padahal dari setiap janji pertemuan dengan dosa yang kita tepati

aku bukan hanya mendambakan peluk dan keringat

yang pasti akan kita hasilkan...

Bukan hanya itu



Supaya kau tahu,

Aku mulai melengos cemburu kalau kau bicara di telepon dengan orang-orang yang memang ada dalam kehidupanmu

Aku hanya diam, pura-pura sibuk menghitung uang

Padahal telingaku sibuk menguping pembicaraan



Supaya kau tahu,

Aku mulai ingin kau tetap ada disini sampai timur menampilkan matahari

Bukan hanya karena aku sudah hapal dengan makan malam kesukaanmu

Tapi karena aku mulai membayangkan seperti apa wajahmu di pagi hari



Jadi, buatku ini bukan lagi bisnis semata

Karena aku telah melanggar peraturannya yang paling utama

Walau aku tau aku akan tak bisa mencintaimu dalam kenyataan



Aku punya lebih dari sekedar cerita tentang pendosa

Percayalah


(2009)

May 29, 2018

Rahasia Parlin

Namanya Parlin. Salah satu nama yang cukup umum dari orang kami. Suku Batak. Usia Parlin tak berpaut jauh dariku, mungkin hanya tiga tahun.  Parlin lebih tua. Bapak si Parlin adalah abang dari bapakku. Bapaktua dan Maktua, itu sapaanku pada orangtua Parlin yang sudah meninggal waktu aku masih kecil sekali, kata Bapak. Jadi, Parlin anak yatim piatu.
Sejak orangtuanya meninggal itulah, sebagai cucu pertama, dan pertama yang bernasib yatim piatu di usia kecil, maka Parlin diboyong oleh Ompung kami untuk tinggal dirumah mereka yang besar. Ompung itu nenek dan kakek.
Pertama kali aku melihat Parlin, dia sedang sibuk menguliti tebu dari kebun Ompung. Deretan gigi kuning dari senyuman Parlin yang lebih menyerupai seringai menyambutku. Parlin berkulit gelap mengilat, dia termasuk pendek kalau di ukurkan di keluarga Bapak yang para lelakinya mewarisi tubuh tinggi tegap berdada lebar. Cukup satu jam aku canggung, selebihnya Ibuku sudah kelabakkan karena aku sudah berkeliaran di kebun Ompung bersama Parlin tanpa alas kaki. 
 ##

Walau anak kampung, Parlin pandai berbahasa Indonesia. Aku diajarinya beberapa kalimat bahasa Batak yang masih membuat lidahku ngilu. Aku melongo saat Parlin mengajakku melihat kandang ternak Ompung, dan melihatnya mengaduk makanan ternak dalam ember besar. Mata Parlin membulat saat kutunjukkan majalah dan buku anak-anak yang kubawa dari kota dan uang yang aku simpan di dompet- yang kujanjikan akan kita belanjakan mie gomak bersama. Masakan mie yang terkenal di kampung. Karena aku tahu kunjungan kami ke kampung tidak akan terlalu lama, kupaksa Parlin berjanji untuk menemaniku setiap hari. Kepala nyaris gundulnya manggut-manggut saja saat itu tapi Parlin lebih sering menghilang. Mungkin dia bosan denganku. Atau dia takut dimandikan lagi oleh Ibuku.
Kaki Parlin lebih sering bertelanjang wujud di kebun, hitam dia jadinya. Ibuku gemas, jadi dimandikannya Parlin dalam bak berbuih sabun, dan digosoknya kaki Parlin kuat-kuat dengan batu apung. Jeritan Parlin sampai dibilang Ompung bisa membangunkan ternak babi yang tidur lelap. Mataku berkaca-kaca karena tak sampai hati melihat Parlin menangis. Tapi saat aku berniat protes pada Ibu, kulihat Ibu menyelipkan uang ke tangan Parlin dan mengelus kepala gundulnya “Nah sudah cakap kau, pergi jajan sana”.

Parlin berkelebat seperti kilat. Lupa padaku. Sampai tengah malam baru kembali dengan kening berdarah karena ditimpuk batu saat berkelahi. Uangnya hilang. Katanya.
##

“Bagaimana bisa hilang?!” hardik Ompung keras. Giginya yang merah habis mengunyah sirih berkilatan dibawah lampu sorot kuning. “Jatuh kurasa.” Jawab Parlin sekenanya.
Aku berusaha mengikutinya ke bilik kecil tempat Parlin tidur. Tapi matanya mendelik gusar “Jangan bilang sama Inanguda!” Inanguda itu sapaannya pada Ibuku. “Tapi kau harus diobati, Parlin.” Aku terbata.
Parlin meringis nyeri, sambil meraih sebuah buku tulis, menuliskan sesuatu di lembarannya yang lusuh. Aku menjulurkan kepala sehingga bisa melihat, yang Parlin tulis adalah angka-angka.

“Ini buku tabunganku.” jelasnya berbisik.

Aku hanya menganggukan kepala tanpa mengerti. “Kau ke Bank?”

“Bukan…”. Parlin menoleh,menatapku tajam. “Kau bisa jaga rahasia?”

Aku mengangguk cepat takut Parlin keburu berubah pikiran.

“Ada Amang di kampung sebelah. Kusimpan uangku disana. Kalau sudah tamat SMA nanti bisa kuambil semua katanya. “

“Buat apa?” aku ragu bertanya karena takut Parlin sadar aku sudah terlalu ikut campur. Biasanya Parlin tak banyak bicara seperti ini.

“Cari Bapakku.” Mata hitamnya mengarah ke jendela. Ia menguap lebar-lebar.

“Bapakmu sudah meninggal Par…”

“Sama Tuhan sekarang?” potongnya sengit.

Aku diam. Tiba-tiba takut.

“Bapakku itu orang jahat. Mamak dipukuli terus dulu sampai meninggal.”

Suara Parlin tenang. Tapi aku bergidik.

“Kalaupun Bapak sudah mati, mana mungkin Tuhan mau ambil dia.” lanjutnya lirih. Tapi lebih seperti bicara pada diri sendiri.
Kudengar langkah kaki Ibu mendekat. Tanpa sempat menyapa, kepala Parlin diraihnya. Diobati dengan cekatan, sambil menahan tangis. Ibuku yang menahan tangis. Bukan Parlin. Si birong itu diam saja. Tak melawan. Ibu juga tak bertanya apa-apa.
Dari sudut mata aku melirik Ibu menggigit bibir bawahnya. Jelas dia sudah mendengarkan percakapan kami. “Aku tidur ya…” pamitku pada keduanya.

##

Sepekan kemudian, kami bertolak kembali ke kota. Aku belum sempat mentraktir Parlin makan mie. Maka kuhampiri dia sebelum pergi. “Ini ada tujuh puluh ribu.” kataku sambil menyodorkan lembaran uang. “Buat kau simpan nanti untuk ongkos mencari Bapakmu.”
Parlin tertawa. Tawanya kali ini seperti orang dewasa. “Makasih ya. Sampai kemarin, uangku sudah terkumpul tiga ratus ribu! Biar cepat banyak kusimpan, cepat kudapat Bapak. Lalu mati dia kubikin!”

Lantai yang dingin dibawah kakiku terasa lebih dingin. Tapi bibirku terkatup kaku. Berharap Parlin hanya bergurau.

“Jangan begitu Parlin… nanti tak jadi berkat uangmu” bisikku hampir menangis tanpa benar-benar memahami. Aku hanya meniru perkataan Bapak yang sempat kudengar dulu.

Parlin terdiam. Matanya yang baik dan lembut seperti bersedih. Tapi dia membisu, menatapi uang tujuh puluh ribu dariku penuh penghayatan.

##

Setahun berlalu. Suatu petang Ompung memberi kabar. Parlin ditemukan tewas didekat kandang babi. Lehernya ditebas senjata tajam. Amang kampung sebelah pelakunya, dan dia langsung ditangkap polisi. Katanya Parlin berusaha merampoknya. Mengambil uang dari laci lemari kamarnya.
“Berapa uang yang mau diambil Parlin Bu?” tanyaku. Ibu baru terdiam dari raungan sedihnya. Dan dari sesalnya mengapa tak diajaknya saja anak baik hati itu ke kota.

“Tiga ratus tujuh puluh ribu…Oh Parlin...” Jawab Ibu disela isak.

Sayup-sayup kudengar Bapak melanjutkan pembicaraan dengan Ompung lewat telepon. Merencanakan pemakaman Parlin, dan kapan harus memberi tahu Bapak Parlin mengenai ketragisan ini.

Aku membayangkan mata jelaga Parlin.

Membayangkan mie gomak yang tak sempat kita santap. Mengenang senyumannya yang seperti seringai. 
Mengingat rahasia Parlin yang akan kusimpan baik-baik walau mungkin Ibu sudah tahu.
Tiga ratus tujuh puluh ribu…


###

Photo hanya ilustrasi tambahan. Milik Sahabatnesia.

Jul 19, 2016

#Bringbackmyspeech

I am the last person to say a thing or two about politics. But I know a little about this subject. For speeches, someone's expression can be easily read. Michelle Obama appears so natural here as words flowing from that smiley face
In creative writing, you can see it in the way some phrases are forced to be used in a paragraph. Or how topics and structures can be too similar.
Funny to watch tho.



Jun 2, 2016

You in Five Words

The past month, I was in this intersection in my career life. After a long thought, I finally made up my mind last week. Disappointing a few, and being questioned by some, I have given my best decision on which road I am taking.
It is funny how things will try to distract you from fulfilling your true destiny. And I know how far I am from my true calling. But at least, today, I know I am not making myself any further from it.

Oh, remember this "You in Five Words" post from two years ago? I tried asking myself again then compare it with my previous answers.

The titles I am giving myself today are:
Writer
Dog(s)-Mama
Movie Maker
Lover
Runner

And I am gratefully accepting the changes. 
There are three new ones and I can examine them as simple as:

Movie Maker- As a rookie, I think I did a good job and I worked with a well-oiled team. When I was working on my movie script, I was in 99% of self-doubt. But that changed immediately as soon as I submitted them.

Lover- This is a significant change to "Selfish." It was easy, you know, to be selfish and take no one's opinion into your consideration in making life decisions. But I what good would I be if I do not love others?

Runner-"In your mind, you are a Kenyan." is written in one Marathon signage I know that my pace is nowhere near them. But this running journey has brought me to realize that my strength is in my endurance. I am training for longer runs now. As in... Ultra Marathon. It freaks me out. To the smallest nerves. But that is how I know that I should do it.

Did you write your own"You in Five Words."? Any changes?
  






May 29, 2016

Best Short- Viewers Choice

"In every victory, let it be said on me. That my source of strength, my source of hope, is in Christ alone."

Some details and photos coming soon, but this one is to show you how grateful I am (and the team) for  this award. Not bad for a rookie script writer, yes?
The team who have worked hard for this movie are the best treasures I found this year!

ps: For those who have not seen the movie, I need to share that at the moment we have taken the videos from the internet for further promotion and possibilities of submitting it for other competitions.


 

 


Jun 4, 2014

Guys to have fun with. But not to go home with

Presenting you my maiden article in Hello Bali, June edition: "Get your flirt on; Guys to have fun with. But not to go home with!"
Read it here: Get your flirt on!

ps: This is not my first officially published article, there are some in other magazines: Three years (and counting) in paradiseBali through the lenses of a photo-mania etc. And I sure am working hard to get some more out there. 

Thank you for reading my pieces of wanderings, beautiful people!

xoxo
Tressabel Hutasoit



Oct 14, 2013

Die known as....

A perfect stranger just told me this one simple line, when I babble about how I do not want to die known as a communication practitioner in hotel industry; "Maybe, you can die as a writer."
Ah, I would really like that...

Pinterest

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...