Showing posts with label Poem. Show all posts
Showing posts with label Poem. Show all posts

Jan 17, 2024

Sahabat Pena Maria

 

By Six Missing


Dari pelosok dusunnya di jalur khatulistiwa
Yang kenyang janji-janji penguasa
Yang listriknya dulu sekali pernah “byar” lalu “pet” lagi
Yang perjalanan ke sekolahnya harus menyebrangi kali
Maria menantikan sepeda ontel yang seharusnya,
saban lima pekan tiba


Ada beberapa surat untuk warga dan kalau beruntung, ada juga yang mendapat kiriman sekaleng biskuit dari kota

Biasanya dibawa si Bapak yang usianya tak lagi muda itu


"Mungkin sungainya meluap."
Mungkin sepedanya rusak."
"Atau kantor pos kembali rumbuh atapnya."
Tebak-tebak Nini’ yang mulai iba melihat penantian cucunya yang tak usai jua


“Harusnya Maryam sudah membalas suratku dari dua bulan lalu.” tukas Maria 
Teringat Ia isi surat pertama mereka yang mensukuri kemiripan nama keduanya
Maria dan Maryam
Pada susunan kalimat tak sempurna dalam bahasa yang keduanya sedang pelajari
Pada persahabatan yang dimulai dari kerabat dusun sebelah, yang bapaknya pernah dinas di luar negri


“Memang dari mana sahabat penamu yang ini?” Nini’ bertanya

“Nama negaranya Palestina, Ni’.” Maria menjawab seraya tetap menjurusi pandangannya ke ujung jalan

Nenek, yang buta huruf karena tak pernah ke sekolah sejak bangsa ini merdeka, 
mengangguk-angguk saja


Sudah kembali fokusnya menyalakan sumbu pelita
Supaya malamnya tak terlalu gulita

Bersama cucu kesayangan satu-satunya

(Oleh TBH- Januari 2024)


Jul 6, 2016

Invictus

Will forever be my favorite Poem:
 
INVICTUS
 
Out of the night that covers me,
Black as the pit from pole to pole,
I thank whatever gods may be
For my unconquerable soul.

In the fell clutch of circumstance 
I have not winced nor cried aloud.
Under the bludgeonings of chance
My head is bloody, but unbowed.

Beyond this place of wrath and tears
Looms but the Horror of the shade,
And yet the menace of the years
Finds and shall find me unafraid.

It matters not how strait the gate,
How charged with punishments the scroll,
I am the master of my fate, I am the captain of my soul. 
 
 
 
 

Apr 21, 2014

How much you love to...

A dear friend just told me this... In another words, of course. But the message conveyed by her is now filling my heart up to the rim!
Someday, I will stop this keep-my-head-above-the-water act and just swim my way to... you know what.

ps: I cannot even say the word. I am that hopeless!



Jun 1, 2012

Hujan Bulan Juni

“To read a poem in January is as lovely as to go for a walk in June.” Jean-Paul Sartre.

And to welcome the 6th month of the year, I want to share one of the most beautiful poem from my favorite Indonesian author... ever; Sapardi Djoko Damono


Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni / Dirahasiakannya rintik rindunya 
kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni/ Dihapusnya jejak-jejak kakinya 
yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni/ Dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu...

70 Tahun Sapardi Djoko Damono, Maret 2010


Jul 29, 2011

Terlalu Pagikah?

Karena aku tahu aku tak akan menemukan
Sekelebatpun dari sisa bayanganmu
Karena tak akan ada satu kapalpun yang akan pernah berlabuh
Mengantarkanmu kembali pulang
Dan tak akan kutemui sudut kota paling terpencil sekalipun
Dimana suaramu dapat kudengar lagi...
Dinyana matamu mampu meneduhkan takutku ini...

Terlalu pagikah?
Terlalu dinikah kalau saat ini
Aku berandai dapat menjalani satu...
Satu malam saja
Tanpa rasa ngeri yang terlalu dalam
Terlalu dalam sampai besi yang kita lemparkan ke dalam
tak terdengar dentingannya

Menjalani satu saja
Pagi tanpa kesesakan yang semakin memeri

Karena aku selalu lupa,
mungkin mendekati kegilaan
mengira engkau masih disini

Sebentar saja....
Sebentar saja kau tinggal...

Terlalu pagikah?
atau terlalu larut untuk memintamu
Menetap sejenak lagi?


TSB- 2005-
Saya dedikasikan hari ini untuk sahabat saya CEM, mengenang sang Ayah.

Jul 11, 2011

Sudah Lima Belas Tahun aku tak Bertemu Ibu

(Puisi ini saya tulis tahun lalu. Dan pembicaraan dengan seorang sahabat semalam membuat saya ingin menuliskannya lagi)
from womens support
Sudah lima Belas Tahun aku tak Bertemu Ibu
Aku tau namanya,aku tau rupanya
Aku juga tau siapa kekasih hatinya
Aku tau Ibu sedang terluka
Lagi-lagi,cinta Ibu bertepuk sebelah tangan
Padahal kata angin,kata hujan, cinta ibu itu lebih sejuk desirannya dan lebih deras curahannya.
Dibanding angin, dibanding hujan.

Aku ingin bertanya apa kabarnya, walau aku sudah tau
Aku ingin menyimpan kelembutan suaranya, sehingga bisa kuputar untuk melepas rindu
Merekam sinar matanya yang seperti tersesat, dan berusaha mencari binarnya yang kian pudar…

Sudah lima belas tahun aku tak bertemu Ibu

Aku bisa mendengar doa-doanya
Aku melihat bilur-bilur luka yang ia tutupi,aku ingin berbisik agar Ibu pergi saja..
susul aku kalau memang Ibu bisa…
Jangan mengemis lagi soal cinta…
Karena yang ditawarkan manusia memang tak ada yang sempurna

Kalau kehidupan menyakitimu lagi ibu , aku ingin ibu bisa melawannya
Tapi, karena cinta ibu lebih deras dari hujankah?... Maka ibu hanya menangis dalam diam? Dalam ketakutan

Jangan takut Ibu.. jangan takut
Aku saja waktu kecil dulu, pernah meronta sejadi jadinya nya saat ada yang berusaha melukaiku
Tanganku bahkan belum sempurna saat itu, tapi aku berjuang…Teriakku tanpa suara, tangisku tak ber air mata..
Sampai titik darah penghabisan memaksaku untuk larut dalam takdir kejam yang diberi nama pilihan.
Kemana Ibu saat itu?.. kenapa tiada membelaku?

Sudah lima belas tahun aku tak bertemu Ibu
Aku masih bisa mengingat debar jantungnya yang sempat jadi pengantar tidurku dulu
Masih bisa mendengar raungan kesakitannya saat Ibu sengaja melepaskan aku pergi
Demi kehidupan wajar katamu... Kehidupan yang kini kerap melukaimu?

Sudah lima belas tahun aku tak bertemu Ibu

Aku tak kunjung beraga pun jiwaku terlalu dini menua
Aku tergoda untuk merayu ibu datang, menemani tidurku panjangku yang sarat kehampaan
Tapi aku ragu….

Apakah ini karena rindu atau karena dendamku?

Jul 5, 2011

About the Archives

Just an update.
Some of you may notice and wonder, why is that all of a sudden the year of 2005-2010 magically appears in my archives. As explained in my short description about  the blog- this blog actually is my second one. I lost access to the previously named-Belle's Chronicle. Since I still have the file on most of the writings, I decided to re post them to this new blog- and just got a chance to revert back on the original "published" dates and edited them accordingly. Trust me, it is not that easy, since some of the writings are even on a scratch paper! Thanks to facebook notes- I keep some of my poems and short stories there too :).

That's all for now. xxoo - Archives updating in progress

the blogger's real real face

Jun 26, 2011

Catatan Pendek dari Perut Bumi

Dan kamu,
yang dengan kekuatan dan cerdasmu
bisa merubah dunia
bisa menjadikan anak-anakmu, tak lagi banyak yang bercita-cita jadi guru
yang bisa bisa menggelitik perekonomian, lewat ibu jarimu
dan mampu menggulingkan manusia lain, berpolitik, hanya melalui bisikmu...
kamu bisa merubah takdir lahirmu
bahkan untuk menjadi lelaki atau perempuan sejati kini adalah hakmu
yang bisa berkalkulasi, meramal bahkan menjadi seorang cendikiawan dalam menebak maunya alam 
Tapi...
Hanya aku yang paling tau kapan seluruh kemuakkan ini akan kumuntahkan
Yang paling tau hari,jam,detik kapan laut akan menjelma dinding tinggi
dan meraupmu tanpa sempat berpamitan
Hanya aku yang punya perjanjian tersembunyi dengan Tuhan....

Kamu tidak akan pernah bisa begitu...

captured by a dearest talented friend of mine
(Untuk saudara-saudaraku yang kehilangan,untuk jiwa-jiwa yang pergi tanpa berpamitan… Tuhan memberkati)

Puisi ini saya tulis pada suatu hari di bulan Oktober 2010. Hari ini, saya merasa alam sedang sangat bersahabat,sehingga  saya merasa perlu bersyukur. Dengan sangat.

Jun 12, 2011

A Poem reminder

Well, I know they don't have roses there in the bush where artist Pete Dungey plants gardens in the potholes on British roads. "If we planted one of these in every hole," he says, "it would be a like forest in the road.". But, rather than thinking about magical little forests, somehow this reminds me of the beautiful poem by Tupac Shakur . Even given the fact that the bushes did not grow by a nature's force . I simply like and love to relate to it.


Did you hear about the rose that grew from a crack in the concrete?
Provin' nature's laws wrong it learned how to walk without havin feet
Funny it seems but, by keepin' its dreams
it, learned to breathe FRESH air
Long live the rose that grew from concrete
when no one else even cared
No one else even cared..
The rose that grew from concrete

Dec 22, 2010

Aku memanggilmu Ibu

Matanya besar seperti mata rusa. Suaranya keras, kuat tapi tidak memekakkan gendang telinga.Wajahnya sarat cerita, senyumnya meneduhkan. Ia sendiri, sejak sepuluh tahun lalu ditinggal lelakinya untuk perempuan lain. Lelaki yang menjanjikan kesetiaan sampai maut mengetuk.
Ia tegar sekaligus lembut, tetapi berbatin kuat. Dan selama sepuluh tahun ia berusaha menyembunyikan airmata, tak sekalipun serapah mengenai lelaki itu kami dengar keluar dari mulutnya. Selama sepuluh tahun ia mendera ketidakmudahan, tak sekalipun kami diajarinya mengutuki nasib. Katanya ia dulu penakut, tetapi sejak memiliki kami, ia harus jadi orang yang pemberani.Katanya ia dulu lemah, tapi demi kami ia belajar kuat. Sakit kami sirna kalau terkena sentuhannya, lapar, letih dan iri pada kehidupan lain menguap tak berbekas kalau melihatnya menanti kami dirumah.
Ia perempuan yang sepertinya cukup susah untuk bisa kuteladani.
Aku panggil dia Ibu


Sudah lebih dari setengah abad kakinya yang kasar dan, dan tangannya yang berkerut itu berjibaku kebajikan di bumi ini. Setengah dari hidupnya, adalah untuk kami bertiga. Ia dan pasangan jiwanya yang sampai saat ini masih seperti sepasang merpati.
Ia penuh kearifan tanpa perlu sering berpetuah. Dekat dengan penciptanya, tanpa harus selalu duduk paling depan dalam rumah ibadah.
Ia tak pandai memasak, tak bisa menjahit, tak suka basa-basi. Tapi tanpanya, tak mungkin kami lewati bencana dan kehancuran, tak mungkin kami kuat menghadapi cobaan, dan mungkin kami sudah lama akan menjauh dari Tuhan. Ia tak bisa memiliki keturunan, maka ia menjemputku, kakak dan adikku dari sebuah rumah penampungan, Karena ia punya cinta yang besar, dan tak mungkin kalau hanya ia simpan sendiri.
Sejak saat itu, aku memanggilnya mama.


Beberapa waktu lalu, kanker ganas memaksa tubuh ringkihnya untuk menyatu dengan tanah. Kembali menjadi abu. Tak satupun harta yang ia tinggalkan, karena hidup kami memang penuh perjuangan kalau sudah menyangkut soal uang. Tapi ia juga tak meninggalkan hutang untuk kami jadikan alas an untuk mengilang keringat… Ia pergi tetap dengan keanggunan yang sejak dulu ia miliki. Ajarannya tentang kejujuran, ucap syukur dan kasih sayang memenuhi hati kami dengan penuh kesesakan. Ia yang selalu tau kapan belaiannya dibutuhkan, yang tau kapan harus bicara-kapan lebih baik diam… Yang tak pernah berkerut kening bahkan saat keputusan yang kami ambil tak sejalan dengan timbang pikirnya… Ia yang akan selalu ada dibalik pintu saat kami tak kuasa mengetuknya… Ia, kupanggil Inang, yang sudah dalam kedamaian abadi bersama penciptanya…


Untuk semua perempuan yang pernah mempertaruhkan nyawa untuk  darah dagingnya-atau bukan-
Selamat Hari Ibu… Semoga suatu saat nanti, dapat kami patuhi teladanmu baik satu atau dua…

Dec 15, 2009

Invictus

My favorite movie this year! Invictus


Out of the night that covers me/ Black as the Pit from pole to pole/ I thank whatever gods may be/ For my unconquerable soul/ In the fell clutch of circumstance / I have not winced nor cried aloud/ Under the bludgeonings of chance/ My head is bloody, but unbowed/ Beyond this place of wrath and tears / Looms but the Horror of the shade, And yet the menace of the years Finds, and shall find, me unafraid/ It matters not how strait the gate, How charged with punishments the scroll/ I am the master of my fate/ I am the captain of my soul.
William Ernest Henley

Oct 8, 2008

Statis

Jangan hanya berdiam diri
Di dalam ruangan semburat abu yang kau pandangi dengan nanar
di tengah putaran kipas angin tua yang terbuat dari besi berkarat…
menelanjangi diri…meluka hati

Jangan hanya bercermin pada telaga kusam
Kalau pantulan yang kaubilang menjengahkan
sudah hampir membuatmu mengeluarkan lagi
sisa makan tadi malam

Menunggu angin lembah
meniup tubuh kerontangmu ke tengah danau
yang airnya lebih bening?

Berdoa agar
Hujan memutuskan untuk
menerpa pepohonan dengan cara yang lebih masuk akal?

Lalu…?
Renungi saja jari kukumu
yang melengkung manis seperti bulan sabit mungil
di pusaran langit yang meratapimu tak adil

Kalau memang hanya sampai jarak itu
Benakmu kuasa mengembara...

Aah...sayang... 

by TSB

Jan 11, 2008

Mencari Bapak

Yang mana bapak kandungku aku tak yakin… Kata orang, bapak adalah orang yang memberi nafkah, yang membuat dapur emak mengepul dari pagi sampai malam. Yang membelikan seragam dan membayar uang sekolah, yang mengajari cara memanggil burung dara dan yang memarahi kalau kita kalah cepat berenang menyebrangi kali.

Tapi dapur emak jarang beruap panas, paling-paling hanya sekali di waktu pagi,sebelum nasi uduk buatannya kupikul dalam tampah rotan yang harus kubawa keliling kampung sampai tengah hari .
Berarti mungkin,…aku tak punya Bapak?

Seragam sekolah itu yang warnanya putih dan merah kan? Putihnya sudah agak menguning memang, tetapi tetap saja aku rindu memakainya…

Sepertinya sudah lama sekali sejak emak bilang bahwa kepala sekolahku adalah manusia keparat yang hanya menginginkan tubuhnya.
"Jadi daripada harus jual diri,lebih baik gantung dulu seragammu!" Itu kata emak dulu, saat kepala sekolah sempat mampir kerumah.. Setelah iuran lima bulan yang kami tunggak ditawarinya penghapusan… Dengan imbalan emak sudi menemaninya di ranjang barang satu malam atau dua.Kukira kepala sekolah adalah Bapakku… Ternyata bukan…Jelas bukan…

Pamannya Syafei juga pasti bukan bapakku, walau ia sempat mengajariku cara memanggil burung dara, tapi ia suka merabai punggungku dan menawariku mandi bersama di pemandian pribadi miliknya. Jelas, kalau dia bapakku dia tidak akan begitu.

Dan walau sudah dari dulu kecepatan renangku tak ada yang bisa menandingi Aku tetap iri melihat bapaknya Aji, Kimung dan Usep. Lelaki-lelaki gagah itu berdiri di dekat bebatuan, saling berteriak menyemangati anak mereka masing-masing. Saat pertandingan yang hampir selalu kumenangkan itu usai, salah satu dari bapak-bapak itu akan mendelik padaku sambil berkata sinis “Anak perempuan koq main di kali!”
Pasti…pastinya tidak ada salah satupun dari mereka Bapakku.

Tapi Emak hanya terpekur dalam hening kalau perihal Bapak kuutarakan.. Heningnya akan bersilih jadi delikan mata yang galak kalau aku menanyakan seperti apa rupa bapak.. Aku hanya ingin tahu, apa benar rambut ijuk yang menyuburi kepalaku ini benar diwariskan oleh bapak?

Aku hanya ingin membayangkan, apakah benar badan bapak tegap seperti tentara, namun suaranya lembut sekali kalau sedang menembangkan lagu 70' an?...

Aku hanya ingin memastikan, kalau bapak tahu jalan pulang
Kalau bapak tahu, bahwa ia punya anak perempuan...
Tapi kalau aku terus mendesak, emak pasti menangis.. Kalu emak menangis, besok dapur tak akan mengepul... Dan aku tak bisa jualan...

Tak bisa mengumpulkan uang.. Untuk pergi jauh mencari bapak...

Jadi...
Semoga saja Usia bumi ini belum menutup sebelum aku bertemu dengan Bapak...

Semoga, akhirat belum turun dari langit menjemput gelungan laut beserta kemelut.Jadi aku akan sempat bersua dengannya .

Dan ia akan sempat mengepuli dapur emak,
membayar uang sekolahku atau mengajari cara memanggil burung dara dan berenang di kali atau lautan sekalian…


TSB: Jkt ,January 2008 Ada sebuah pencarian yang mungkin harus dihentikan…

Sep 28, 2007

Tarian Hujan

Kupu-kupu bersayap perak
Langit merah di bulan Januari
Desir angin bercampur bau laut yang menjarahi gendang telinga.mengingini bagian dalam hela napas...

Indah... ,katamu

Tapi aku menyangkal
Bagaimana kuasa aku menikmati seluruh lansekap ini
Kalau separuh hatiku terpatri disana?

Katamu lagi,
Hujan harus berderai sebelun cakrawala melukiskan pelangi

Tetapi,
Dengan siapa akan kubagi derai hujan itu?
Kalau kau menolak untuk bergabung dalam tarianku?

by TSB 

Image is from this community

Jul 4, 2006

Aling dan Ibu

Aling dan Ibu
Bersua pada suatu hari Minggu yang panas menggetirkan
Pada sisi-sisi pagar bambu yang nyaris roboh dan oleng ke kiri
Pada bekas pijakan kaki-kaki hitam legam di tanah mengering berkerikil tajam

Aling dan Ibu
Merengkuh dalam diam
Membentuk siluet kelabu kehitaman yang menampilkan sisa pilu
dan seberkas haru di wajah keduanya...
Ada lelah...ada gentar...Ada sulur-sulur panjang sebuah pertanyaan
Tak ada pelangi

Aling tersenyum...Ibu tersenyum
Saling menempelkan telapak tangan pada paras yang nyaris tak mampu dikenali
Doa Aling belum sampai pada penghujung amin, dan Ibu belum mematikan pijar lampu penantian

Tetapi Aling dan Ibu telah bersua, Pada suatu hari Minggu yang ternyata tak terlalu getir panasnya..
Pada sisi-sisi pagar bambu yang ternyata tak terlalu oleng berdirinya

Bertemu
Pada sebuah pengampunan...yang bahkan belum sempat dipertanyakan...

......

Untuk "My Reasons for Breathing"

May 5, 2005

Terlalu Pagikah?

Karena aku tahu aku tak akan menemukan
Sekelebatpun dari sisa bayanganmu
Karena tak akan ada satu kapalpun yang akan pernah berlabuh
Mengantarkanmu kembali pulang
Dan tak akan kutemui sudut kota paling terpencil sekalipun
Dimana suaramu dapat kudengar lagi...
Dinyana matamu mampu meneduhkan takutku ini...

Terlalu pagikah?
Terlalu dinikah kalau saat ini
Aku berandai dapat menjalani satu...
Satu malam saja
Tanpa rasa ngeri yang terlalu dalam
Terlalu dalam sampai besi yang kita lemparkan ke dalam
tak terdengar dentingannya

Menjalani satu saja
Pagi tanpa kesesakan yang semakin memeri

Karena aku selalu lupa,
mungkin mendekati kegilaan
mengira engkau masih disini

Sebentar saja....
Sebentar saja kau tinggal...

Terlalu pagikah?
atau terlalu larut untuk memintamu
Menetap sejenak lagi?
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...