Showing posts with label Ibu. Show all posts
Showing posts with label Ibu. Show all posts

Jul 11, 2011

Sudah Lima Belas Tahun aku tak Bertemu Ibu

(Puisi ini saya tulis tahun lalu. Dan pembicaraan dengan seorang sahabat semalam membuat saya ingin menuliskannya lagi)
from womens support
Sudah lima Belas Tahun aku tak Bertemu Ibu
Aku tau namanya,aku tau rupanya
Aku juga tau siapa kekasih hatinya
Aku tau Ibu sedang terluka
Lagi-lagi,cinta Ibu bertepuk sebelah tangan
Padahal kata angin,kata hujan, cinta ibu itu lebih sejuk desirannya dan lebih deras curahannya.
Dibanding angin, dibanding hujan.

Aku ingin bertanya apa kabarnya, walau aku sudah tau
Aku ingin menyimpan kelembutan suaranya, sehingga bisa kuputar untuk melepas rindu
Merekam sinar matanya yang seperti tersesat, dan berusaha mencari binarnya yang kian pudar…

Sudah lima belas tahun aku tak bertemu Ibu

Aku bisa mendengar doa-doanya
Aku melihat bilur-bilur luka yang ia tutupi,aku ingin berbisik agar Ibu pergi saja..
susul aku kalau memang Ibu bisa…
Jangan mengemis lagi soal cinta…
Karena yang ditawarkan manusia memang tak ada yang sempurna

Kalau kehidupan menyakitimu lagi ibu , aku ingin ibu bisa melawannya
Tapi, karena cinta ibu lebih deras dari hujankah?... Maka ibu hanya menangis dalam diam? Dalam ketakutan

Jangan takut Ibu.. jangan takut
Aku saja waktu kecil dulu, pernah meronta sejadi jadinya nya saat ada yang berusaha melukaiku
Tanganku bahkan belum sempurna saat itu, tapi aku berjuang…Teriakku tanpa suara, tangisku tak ber air mata..
Sampai titik darah penghabisan memaksaku untuk larut dalam takdir kejam yang diberi nama pilihan.
Kemana Ibu saat itu?.. kenapa tiada membelaku?

Sudah lima belas tahun aku tak bertemu Ibu
Aku masih bisa mengingat debar jantungnya yang sempat jadi pengantar tidurku dulu
Masih bisa mendengar raungan kesakitannya saat Ibu sengaja melepaskan aku pergi
Demi kehidupan wajar katamu... Kehidupan yang kini kerap melukaimu?

Sudah lima belas tahun aku tak bertemu Ibu

Aku tak kunjung beraga pun jiwaku terlalu dini menua
Aku tergoda untuk merayu ibu datang, menemani tidurku panjangku yang sarat kehampaan
Tapi aku ragu….

Apakah ini karena rindu atau karena dendamku?

Mar 24, 2011

Life In A Jar

insert: Irena Sendler (15 February 1910 – 12 May 2008)
Source: The Prize does not always go to the most deserving.

There was a lady named Irena. During WWII, Irena, got permission to work in the Warsaw Ghetto, as a Plumbing/Sewer specialist. She had an 'ulterior motive' ... She KNEW what the Nazi's plans were for the Jews. Irena smuggled infants out in the bottom of the tool box she carried and she carried in the back of her truck a burlap sack, (for larger kids..) She also had a dog in the back that she trained to bark when the Nazi soldiers let her in and out of the ghetto. The soldiers of course wanted nothing to do with the dog and the barking covered the kids/infants noises.. During her time of doing this, she managed to smuggle out and save 2500 kids/infants. She was caught, and the Nazi's broke both her legs, arms and beat her severely. Irena kept a record of the names of all the kids she smuggled out and kept them in a glass jar, buried under a tree in her back yard. After the war, she tried to locate any parents that may have survived it and reunited the family. Most had been gassed. Those kids she helped got placed into foster family homes or adopted. 
In 2007, Irena was up for the Nobel Peace Prize ... She was not selected. 
Al Gore won, for a slide show on Global Warming.

Anna Paquin plays young Sendler in "Life in a Jar"

Dec 30, 2010

Nilai Sepuluh

Tuhan yang baik,
Kemarin aku membawa pulang nilai sepuluh dari sekolah. Untuk mata pelajaran yang paling kubenci, Biologi. 
Hatiku sesak penuh kebanggaan dan tak percaya kerja kerasku menghapal nama latin hewan dan tumbuhan membuahkan hasil gemilang. Jadi aku berlari pulang, dengan tas berguncangan di punggung, dan kertas ulangan berkibar di tangan kanan. Aku tak sadar kalau tali sepatuku lepas, dan pastinya tak heran lariku berakhir dipinggir comberan karena aku terjerambab. Untung kertas ulanganku aman dalam genggaman. Harus kupamerkan pada ibu.
Supaya hilang kernyitnya yang mengganggu.

Kalau nilai sepuluh untuk Bahasa Indonesia, aku sudah biasa Tuhan...
Kata Ibu itu pelajaran yang nyaris sia-sia belaka karena toh aku sudah pasti bisa bicara bahasanya. 
Tapi aku cinta kata-kata. 
Aku selalu lapar akan puisi, majas, pantun bahkan cerita drama panggung. 
Ibu bilang itu percuma, karena aku tak akan kenyang dan kaya kalau bercita-cita jadi sastrawan. 
Sastrawan biasanya hanya akan jadi pecinta tapi lalu pergi tanpa memberi tunjangan. Kalau ceracau Ibu sudah sampai situ, terpaksa kusembunyikan dulu catatan puisiku, lalu memelototi buku matematika, dan pelajaran gila lainnya. 

Mungkin Ibu jadi ingat ayah, karena ayah suka baca puisi dan pandai melukis. Ayah…seniman yang membuat cinta Ibu sampai kelangit ketujuh lalu hancur lebur sampai lapisan tanah paling bawah…  
Yang pamit pergi karena cintanya pada ideologi dan kebebasan ternyata lebih besar daripada pengabdiannya pada  keluarga.

Tapi Tuhan, 
Ibu tak nampak saat aku sampai rumah. Pintu kamarnya terkunci rapat tanda Ia sedang tak ingin berurusan dengan apapun, baik kabar baik atau buruk. Jadi aku diam saja. Tak berani mengetuk.
Tapi, aku tak sabar Tuhan...jadi kupaksakan melongok dari jendela. Hal yang sudah beribu kali Ibu larang. Aku nakal katanya. Tapi aku bukan mau mengganggu, aku cuma mau menceritakan prestasiku ini pada Ibu. Aku dapat nilai sepuluh!

Sekali lagi, kalau untuk pelajaran bahasa, buatku nilai sepuluh sudah biasa. Ini untuk pelajaran Biologi... Tuhan… Biologi! Ibu pasti bangga, pasti dia senang dan bisa mulai berceloteh dengan khayalannya bahwa aku bisa jadi ilmuwan. 
Jadi aku nekat mengintip, habis sudah hampir dua jam aku menunggu.

Ibu murka besar ketika dilihatnya hidungku menempel dikaca jendela. Merah sempurna telinga caplangku dijewernya, lebam keunguan kaki dan tanganku dibuat tali pinggangnya… Ada teman Ibu dalam kamar. Laki-laki. 
Dan aku sangat membuat malu karena mengintip. Teman ibu seperti sedang meneliti tubuh ibu dari ujung kepala sampai ujung kaki. 
Tak kunjung aku mengerti untuk apa dan aku heran kenapa Ibu terlihat geli tertawa.

Saat Bik Nah menghapus airmataku dan mengolesi lebamku dengan minyak, kuceritakan padanya apa yang kulihat dengan kalimat terbata-bata. Bik Nah bilang Ibu sedang sakit dan ia sedang diperiksa oleh teman barunya itu. Teman Ibu itu dokter, kata Bik Nah… Sungguh aku tak tahu kalau Ibu sakit Tuhan, dan sumpah aku tak mau mengganggu. Aku hanya mau kasih tau Ibu kalau aku dapat nilai sepuluh. 
Kalau aku belajar terus, aku bahkan juga bisa jadi dokter, jadi biar aku yang memeriksa Ibu kalau ibu sakit… tidak perlu temannya yang dokter itu.

Tolong Tuhan, tolong buat aku pintar... aku mau jadi dokter… 
Janji tak mau lagi sembunyi-sembunyi menulis puisi dan maaf karena  ini mungkin akan jadi surat terakhirku untuMu…kalau perlu, kubakar semua sisa-sisa buku ayah…
Aku mau belajar keras untuk jadi dokter. Buat aku, buat Ibu, bahkan Bik Nah kalau perlu. Terutama karena Bik Nah sudah begitu baik mau membersihkan kertas ulanganku dari sisa tanah dan airmata…

Kertas ulangan biologiku Tuhan, kau masih ingat kan? Yang nilainya sepuluh…

TSB-akhir 2010
Untuk semua alasan dari sebuah cita-cita

Dari artikel yang menginspirasi tulisan saya

Dec 22, 2010

Aku memanggilmu Ibu

Matanya besar seperti mata rusa. Suaranya keras, kuat tapi tidak memekakkan gendang telinga.Wajahnya sarat cerita, senyumnya meneduhkan. Ia sendiri, sejak sepuluh tahun lalu ditinggal lelakinya untuk perempuan lain. Lelaki yang menjanjikan kesetiaan sampai maut mengetuk.
Ia tegar sekaligus lembut, tetapi berbatin kuat. Dan selama sepuluh tahun ia berusaha menyembunyikan airmata, tak sekalipun serapah mengenai lelaki itu kami dengar keluar dari mulutnya. Selama sepuluh tahun ia mendera ketidakmudahan, tak sekalipun kami diajarinya mengutuki nasib. Katanya ia dulu penakut, tetapi sejak memiliki kami, ia harus jadi orang yang pemberani.Katanya ia dulu lemah, tapi demi kami ia belajar kuat. Sakit kami sirna kalau terkena sentuhannya, lapar, letih dan iri pada kehidupan lain menguap tak berbekas kalau melihatnya menanti kami dirumah.
Ia perempuan yang sepertinya cukup susah untuk bisa kuteladani.
Aku panggil dia Ibu


Sudah lebih dari setengah abad kakinya yang kasar dan, dan tangannya yang berkerut itu berjibaku kebajikan di bumi ini. Setengah dari hidupnya, adalah untuk kami bertiga. Ia dan pasangan jiwanya yang sampai saat ini masih seperti sepasang merpati.
Ia penuh kearifan tanpa perlu sering berpetuah. Dekat dengan penciptanya, tanpa harus selalu duduk paling depan dalam rumah ibadah.
Ia tak pandai memasak, tak bisa menjahit, tak suka basa-basi. Tapi tanpanya, tak mungkin kami lewati bencana dan kehancuran, tak mungkin kami kuat menghadapi cobaan, dan mungkin kami sudah lama akan menjauh dari Tuhan. Ia tak bisa memiliki keturunan, maka ia menjemputku, kakak dan adikku dari sebuah rumah penampungan, Karena ia punya cinta yang besar, dan tak mungkin kalau hanya ia simpan sendiri.
Sejak saat itu, aku memanggilnya mama.


Beberapa waktu lalu, kanker ganas memaksa tubuh ringkihnya untuk menyatu dengan tanah. Kembali menjadi abu. Tak satupun harta yang ia tinggalkan, karena hidup kami memang penuh perjuangan kalau sudah menyangkut soal uang. Tapi ia juga tak meninggalkan hutang untuk kami jadikan alas an untuk mengilang keringat… Ia pergi tetap dengan keanggunan yang sejak dulu ia miliki. Ajarannya tentang kejujuran, ucap syukur dan kasih sayang memenuhi hati kami dengan penuh kesesakan. Ia yang selalu tau kapan belaiannya dibutuhkan, yang tau kapan harus bicara-kapan lebih baik diam… Yang tak pernah berkerut kening bahkan saat keputusan yang kami ambil tak sejalan dengan timbang pikirnya… Ia yang akan selalu ada dibalik pintu saat kami tak kuasa mengetuknya… Ia, kupanggil Inang, yang sudah dalam kedamaian abadi bersama penciptanya…


Untuk semua perempuan yang pernah mempertaruhkan nyawa untuk  darah dagingnya-atau bukan-
Selamat Hari Ibu… Semoga suatu saat nanti, dapat kami patuhi teladanmu baik satu atau dua…

Mar 21, 2010

Sudah Lima Belas Tahun aku tak Bertemu Ibu

Sudah lima Belas Tahun aku tak Bertemu Ibu
Aku tau namanya,aku tau rupanya
Aku juga tau siapa kekasih hatinya

Aku tau Ibu sedang terluka
Lagi-lagi,cinta Ibu bertepuk sebelah tangan
Padahal kata angin,kata hujan, cinta ibu itu lebih sejuk desirannya dan lebih deras curahannya.
Dibanding angin, dibanding hujan.


Aku ingin bertanya apa kabarnya, walau aku sudah tau
Aku ingin menyimpan kelembutan suaranya, sehingga bisa kuputar untuk melepas rindu
Merekam sinar matanya yang seperti tersesat, dan berusaha mencari binarnya yang kian pudar…

Sudah lima belas tahun aku tak bertemu Ibu

Aku bisa mendengar doa-doanya
Aku melihat bilur-bilur luka yang ia tutupi,aku ingin berbisik agar Ibu pergi saja..
susul aku kalau memang Ibu bisa…
Jangan mengemis lagi soal cinta…
Karena yang ditawarkan manusia memang tak ada yang sempurna

Kalau kehidupan menyakitimu lagi ibu , aku ingin ibu bisa melawannya
Tapi, karena cinta ibu lebih deras dari hujankah?... Maka ibu hanya menangis dalam diam? Dalam ketakutan

Jangan takut Ibu.. jangan takut
Aku saja waktu kecil dulu, pernah meronta sejadi jadinya nya saat ada yang berusaha melukaiku
Tanganku bahkan belum sempurna saat itu, tapi aku berjuang…Teriakku tanpa suara, tangisku tak ber air mata..
Sampai titik darah penghabisan memaksaku untuk larut dalam kejamnya takdir kehidupan.
Kemana Ibu saat itu?.. kenapa tiada membelaku?

Sudah lima belas tahun aku tak bertemu Ibu
Aku masih bisa mengingat debar jantungnya yang sempat jadi pengantar tidurku dulu
Masih bisa mendengar raungan kesakitannya saat Ibu sengaja melepaskan aku pergi
Demi kehidupan wajar yang kini kerap melukaimu?

Sudah lima belas tahun aku tak bertemu Ibu
Aku tak kunjung beraga pun jiwaku terlalu dini menua
Aku tergoda untuk merayu ibu datang, menemani tidurku panjangku yang sarat kehampaan
Tapi aku ragu….

Apakah ini karena rindu atau karena dendamku?

Nov 13, 2009

Jatuh Cinta

Aku tahu pasti
Tuhan sedang berbahagia
saat ia menciptakan kamu
Saat tanganNya yang maha kuasa merajut setiap urat, daging, kerangka
dan kulit yang membungkus jasad indahmu
Ia sedang bersuka saat menghembuskan nafas kehidupan pada bilik-bilik jantung mungil milikmu

Dan pastinya malaikat sedang ber ria-ria
saat senyummu dilukiskan dengan sempurna olehNya
Saat kedua bola matamu ditoreh dan diijinkan
menikmati hasil karya yang dashyat di setiap pijakkan bumi

Saat cerita hidupmu Ia rangkum pada telapak tanganNya sendiri
saat bahkan setiap langkah dan hela hidup dari setiap harimu
telah ia pastikan dalam pagar pengasihanNya

Dan saat kamu hadir
Surga meneteskan air mata bahagia dan mungkin
setitik saja rasa iri
Menemaniku dalam gemetar tak percaya menerima kepercayaan
Untuk menjadi perempuan yang akan kau sapa Ibu...

Kamu tahu aku takut...
Kamu tahu aku merasa rapuh dan kelimpahan akan bahagia

Kamu tahu aku jatuh cinta
pada dirimu dan kehidupan kita
Detik ini juga...sampai seterusnya

Jul 4, 2006

Aling dan Ibu

Aling dan Ibu
Bersua pada suatu hari Minggu yang panas menggetirkan
Pada sisi-sisi pagar bambu yang nyaris roboh dan oleng ke kiri
Pada bekas pijakan kaki-kaki hitam legam di tanah mengering berkerikil tajam

Aling dan Ibu
Merengkuh dalam diam
Membentuk siluet kelabu kehitaman yang menampilkan sisa pilu
dan seberkas haru di wajah keduanya...
Ada lelah...ada gentar...Ada sulur-sulur panjang sebuah pertanyaan
Tak ada pelangi

Aling tersenyum...Ibu tersenyum
Saling menempelkan telapak tangan pada paras yang nyaris tak mampu dikenali
Doa Aling belum sampai pada penghujung amin, dan Ibu belum mematikan pijar lampu penantian

Tetapi Aling dan Ibu telah bersua, Pada suatu hari Minggu yang ternyata tak terlalu getir panasnya..
Pada sisi-sisi pagar bambu yang ternyata tak terlalu oleng berdirinya

Bertemu
Pada sebuah pengampunan...yang bahkan belum sempat dipertanyakan...

......

Untuk "My Reasons for Breathing"
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...