Jun 2, 2017

Menyoal Hakikat Perempuan Sejati

Ini Siswi. Primadona nya Camp Leakey yang berlokasi di Tanjung Puting- Kalimantan Tengah.
Tanjung Puting (dan tiga camp didalamnya; Camp Leakey, Pondok Tanggui, Tanjung Harapan) adalah taman nasional dimana di tiga camp tersebut, orangutan yang sempat menjadi korban trafficking direhabilitasi ulang oleh para ranger sebelum bisa dilepas kembali ke alam bebas. Tapi tulisan ini bukan hendak membahas mengenai brengsek dan tamaknya deforestrasi industri kelapa sawit. Itu nanti saja.
Tulisan ini, tentang perempuan.
Kenapa Siswi disebut primadona? Well, sebenarnya itu julukan si paruh baya ini dulu. Sebagai seorang perempuan… siswi tergolong cantik dan menggairahkan. Buat para orangutan tentu. Sifatnya yang percaya diri dan pesonanya menjadikan Siswi seorang alpha-female. Dan Siswi berhasil membuat King Tom (alpha male di Camp leakey bertekuk lutut)
Suatu hari, Siswi mengalami keguguran. Sejak itu diketahui bahwa Siswi memiliki tumor didekat rahimnya yang bisa berakibat fatal jika tidak segera dioperasi. Tim dokter ahli akhirnya didatangkan oleh Prof. Birute dan tim’nya. Menyelamatkan nyawa perempuan dahsyat ini…walau artinya mereka harus mengangkat rahim Siswi.
Setelah pulih, Siswi kembali ke hutan. Sayangnya, tanpa Siswi sangka, para Orangutan jantan tidak lagi melihat Siswi menggairahkan. Baunya beda, hormone yang dulu memikat sekarang sudah tidak tercium lagi. Siswi dianggap tak akan mampu menghasilkan keturunan lagi. Jadi buat apa didekati.
Harap dicatat; untuk bisa mendapatkan pengakuan sebagai “Pejantan sejati”, orangutan jantan harus berhasil punya anak. Jadi naluri kebinatangan mereka bereaksi secara alamiah didalam hal ini. Nothing personal. It’s nature.
Ada manusia yang merasa? Silakan berhenti membaca tulisan saya.
Oh, dan terakhir saya kesana tahun lalu, Tom lagi pacaran sama Arya. Seorang Orangutan betina muda yang belum berusia 20 tahun dan masih subur pastinya.
Tersinggung? Kan saya sudah bilang, berhenti membaca tulisan ini….
Akhirnya, Siswi jadi lebih sering berteman dengan para ranger. Makanya, mudah sekali bertemu dengan Siswi kalau kita berkunjung ke Camp Leakey. Karena dia sering duduk di dermaga. Siswi agak nyentrik, bahkan sering dibilang biang kerok. Karena selalu mengikuti cara hidup para ranger disana; suka ikut mandi, minta teh, sok bantu benerin jembatan, atau mengganggu tamu dengan ulahnya. Yang terjadi didepan mata saya saat itu; Siswi harus dirayu pakai payung supaya mau minggir dari dermaga. Supaya saya dan teman-teman lain bisa lewat dan naik ke perahu kelotok.
Lucu? Mungkin.
Tapi, sebagai seorang skeptic sejati… saya justru merasa sedih. Siswi merasa ditolak, jadilah ia pencari perhatian kelas berat. Siswi merasa tidak cantik lagi, jadilah dia galak sama perempuan lain. Terutama sama siapa tebak? Yes, Arya!
Saat ini, mungkin kalian berpikir saya seperti sedang membahas mengenai teman-teman manusia. Bukan, ini purely orangutan. Yang punya kesamaan genetic 97% dengan kita.
Makes so much more sense now?
Yang bisa saya syukuri, Siswi tetap sehat. Dia akan selalu aman dan bahagia disana. Animal Instinct yang membuat para orangutan jantan tidak mau sama Siswi lagi adalah proses alam yang tak bisa diubah.
Tapi, bagaimana dengan nasib saudara-saudara perempuan Siswi yang lain (yang punya kesamaan genetic sebanyak 97%)?. Alias manusia.
Bagaimana jika seorang perempuan (manusia) hanya dianggap sempurna jika Ia berhasil menghadirkan manusia-manusia kecil kedunia ini lewat rahimnya? Padahal ia tidak bisa.
Bagaimana jika 3% dari ketidaksamaan itu membuat si perempuan punya logika yang justru berbeda
“Saya tidak mau punya anak.” Karena (mau adopsi/tidak mau saja/takut melahirkan/dunia sudah edan/my body my rule)
Apakah pilihan-pilihan itu akan menjadikan posisi perempuan jadi sama seperti Siswi? Dianggap tak berguna. Di judge tak memenuhi kodrat. Disingkirkan alam?
Sehingga harus sering main-main sendirian di dermaga.
Atau justru lebih buruk?
Dihina di lingkungan, diceraikan, dianggap aneh. Terutama oleh perempuan lain yang sibuk adu argumentasi mengenai pentingnya ASI versus Susu formula. Akhirnya para perempuan ini cuma bisa diam.
Entah mau mengutuki rahim dan kelamin atau justru mempertanyakan Tuhannya.
Kembali ke Siswi. Yang buat saya adalah tetap perempuan sejati.
Apakah Siswi punya pilihan lain? Selain ya sesekali judesin Arya.
Apa Siswi bisa nulis blog atau bikin campaign soal #rewritetherules atau soal #feminisme?
Tidak.
Tapi paling tidak… dibatas pemikirannya yang tak se”mulia” manusia, Siswi bisa berdamai dengan kehidupannya sekarang. Toh, ranger malah sering memanjakannya. Siswi juga tak harus berpikir soal “Siapa yang akan mengurusnya saat tua nanti.”
Perempuan lain?.....
Akhir tahun ini, kalau Tuhan dan semesta mengijinkan, saya akan bertemu Siswi lagi.
Mungkin akan berusaha menatap matanya walau tak bisa terlalu dekat.
A homo sapiens and a Pongo pygmaeus.
But eye to eye. Woman to woman.
Mungkin Siswi bisa menularkan kekuatannya kepada saya karena sebagai sesama perempuan, Siswi dan saya sama-sama pernah keguguran.
Mungkin akan ada sepercik sinar kebijakan di dalam jiwa Siswi yang bisa saya serap dan pelajari.
Untuk kemudian saya bagi untuk perempuan lain di dermaga lain atau lelaki yang tidak akan pernah bisa sejantan King Tom.
Atau pada diri saya sendiri.
xoxo
Tressabel Hutasoit-  
Homo sapiens-

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...