Jan 1, 2026

5 Buku Terbaik Tahun 2025

Dalam unggahan ini, saya hendak berbagi judul buku favorit saya di tahun 2025. 

Bukan buku yang terbit tahun 2025, melainkan 5 favorit dari 10 buku yang tamat dibaca tahun kemarin ❤️


Dearly oleh Margaret Atwood- Bukan penawar dari “The Handmaids’ Tale”, ini adalah suara puitis seorang perempuan tentang luka, renungan, dan politik. Banyak tokoh dongeng yang tiba-tiba muncul. Cocok untuk santai atau jadi teman perjalanan.


Ragam Ni Si Marian oleh Kartini Sjahrir- Kisah hidup Marian, si boru Batak perawat, mengingatkan saya pada novel Marga T yang saya curi baca dulu. Deskripsi ringan dan harmoninya dengan sang Bapak memberi harapan di tengah nilai patriarki Batak yang cadas ini.


The Thing Around Your Neck oleh Chimamanda N. Adichie- Saya membaca empat buku Adichie tahun ini! Dan tahun 2025 adalah tahun dimana saya membaca buku ini untuk kedua kali. Kaya akan kerisauan dan pemikiran visioner, ini adalah buku tepat untuk mulai menjelajah karya Adichie. Setelah itu, coba “Purple Hibiscus”!


Invisible Women oleh Caroline C. Perez- Siapa sangka banyak penelitian mengabaikan perempuan? Buku ini mengungkap bagaimana gadget, obat-obatan, dan kebijakan sering diciptakan tanpa memperhitungkan fakta biologis, fisiologis, maupun fungsi sosial perempuan. Ever wonder why some drugs don't work for us women? Read this one.

Perempuan oleh Mochtar Lubis- Kumpulan cerita pendek dengan perempuan sebagai pusatnya. Favorit saya? “Sinyo Brandi” dan “Pak Siman dan Bini-Bininya.” Siap-siap tertawa (dan meringis) dengan buku ini!

Teman-teman baca buku apa saja 2025 silam?

Dec 29, 2025

A Conscious Love Story

Yovan and I had a rough time for nearly 12 month long with his mom being sick. He took care of her during the palliative time through her very last breath and I could not been prouder as a wife. Of course, the temporary separation did come with its toll. By God's grace, we pulled through. 

So... As I am nching my way to end this especially hard year of 2025, I am sharing one post that makes me feel warm; our wedding. 

Here's a full story on how we make it environmental (and socio-economic) friendly: Tressabel and Yovan Sustainable Wedding with SukkhaCitta, and a more picturesque bits from Great Destination Weddings: Tressabel and Yovan.

How was your wedding? Was there a theme? Did you get a chance to eat at all?
Did anyone drunk dance?
I'd love to hear!

Tressabel and Yovan
Conrad Bali, March 2022

Dec 27, 2025

Tentang Childfree

Jadi begini…Tadinya kami berpikir bahwa rumah tangga kami akan dikaruniai seorang anak atau dua. Kalau perempuan sudah disiapkan namanya, juga jika lelaki. 

Sepotong pakaian onesie dengan tulisan “A Feminist” juga sudah kami siapkan sejak tahun pertama. Untuk dipakai anak perempuan, juga jika lelaki.


With our Godsons

Mendekati empat tahun pernikahan, anggota keluarga kami memang bertambah.

Namun, kedua nama tadi tidak bisa dipakai karena yang masuk menjadi keluarga adalah dua ekor anjing. Walau kebetulan laki-laki dan perempuan, rasanya terlalu extravagant ya kalau nama dua anak anjing itu Caleb Andersen dan Emmanuella Sarasvati. Or no?


Jadi, jika harus ada label sosial dalam bahtera ini, maka kami akan diberi julukan “Pasangan Childfree”. Soal kenapa kami sampai pada titik ini, biar kami saja yang tahu.

Apakah cerita ini nanti berubah, kita bisa lihat nanti. 

Sekarang, mari kita bahas si status kami saat ini, Childfree


Siapa yang melahirkan istilah itu, saya tidak paham. Namun semakin lama, terdengar semakin aneh di telinga. Walau tidak bisa secara gamblang diterjemahkan menjadi "Bebas dari Anak", tetap saja itulah nuansa yang terasa. Apa anak itu adalah simbol dari belenggu sampai harus ada kata bebas yang mendahuluinya? Seperti daerah bebas banjir, atau ruangan bebas asap rokok?

Jelas bukan. Anak bukan banjir yang juga adalah bencana. Anak bukan asap rokok yang ujungnya adalah penyakit. 

Dalam segala keterbatasan pengalaman kami soal anak (yang manusia), kami tahu mereka adalah cinta dan tanggung jawab. 


Namun dunia harus gaduh. 

Pasangan yang tanpa anak sering dicap egois dan dipertanyakan tujuannya di dunia. Banyak juga yang selain dihakimi tetapi juga terus dimintai bantuan oleh sekitarnya karena dianggap “Kan enak gak punya anak?”.

Tidak sedikit juga yang diminta pengertiannya soal kenyamanan hidup atau pada saat berbagi “Maklum ya, kan kami punya anak (so we need more). Kalian tidak (makanya dapat lebih sedikit)."

Lalu kami terpaksa harus menjelaskan kenapa begini kenapa begitu. Seolah-olah penjelasan itu akan membuat sistem negara lebih baik, atau perubahan iklim dapat diatasi.


Tidak cukup disitu, pasangan childfree juga kerap dituduh benci anak-anak. 

Apa benar begitu? 

We cannot speak for everyone, tapi, kalau kami tidak. Justru yang kami impikan sebenarnya sama dengan kalian yang punya anak. Dunia yang aman bagi anak-anak. Kehidupan bagi mereka yang jauh dari kemiskinan, kelaparan, juga kekerasan fisik, emosional, dan atau seksual. 


Dengan kenyataan bahwa kami tidak memiliki anak, kami sedang berusaha untuk tetap mencapai impian tadi. Buat anak-anak. Demi hari esok.


Caranya? 

Menjadi paman, bibi, dan orangtua Baptis yang baik. Menjadi pasangan yang berfungsi secara fisik dan mental dalam berbagai (tidak semua) dinamika sosial yang kami geluti.

Di keluarga besar, di pekerjaan, bahkan secara lebih global lagi lewat kegiatan lainnya. Soal kami menggiatkan adopsi anjing jalanan dan mengupayakan program steril pun, kami percaya, telah menjadi contoh baik buat lingkungan, dan juga anak-anak. 

Kecil besar, kami tahu damai sejahtera adalah tujuannya. 


Tahun 2025 bukan tahun yang mudah buat kami. Maka, tulisan ini rasanya pantas kami bagikan. Kami mau mengakhirinya dengan ucapan syukur, walau wajah ini lelah. Kami bersukacita, karena masih bersama dalam Tuhan menjalani pernikahan muda ini, di usia yang yah lumayan muda. 

Saat ini kami bersuka karena Tuhan memperkenankan kami untuk berfungsi. Ada gunanya. 

We function in this world as a childfree couple who are blessed with five dogs. 

Itu cukup.


Kiranya langkah kami semakin berderap. Dan pada suatu hari baik nanti, kegaduhan kita adalah lebih soal merayakan dunia yang lebih baik bagi anak-anak kita tadi. 

Bukan soal siapa yang punya dan yang tidak.


Get a grip, adults. This is on all of us. 


PS: Onesie tadi masih tersimpan rapi dan sesekali kami pandangi. 


Jun 9, 2025

Mar 15, 2025

Hari Perempuan Internasional 2025: 5 (+1)Buku Bertema Perempuan

 


Tema Hari Perempuan Internasional tahun ini adalah #AccelerateAction. Aksi saya hari ini adalah merekomendasikan 5 buku tentang perempuan, versi saya dan @setarasejahtera

The Color Purple- Alice Walker
Yang brilian dari buku pemenang Pulitzer Prize ini adalah penulisan *"epistolary” nya. Walker membuat kita melihat perkembangan jiwa dan kecerdasan Celie- si karakter utama yang hidup di masa 1920-an. *surat menyurat

The Vagina Monologue- Eve Ensler
Buku ini merupakan episodic play yang mengeksplorasi isu seks consensual atau nonconsensual, serta objektifikasi perempuan dari sudut pandang perempuan dengan berbagai latar belakang.

Ronggeng Dukuh Paruk- Ahmad Tohari
Bagi saya ini adalah maha karya dari Ahmad Tohari. Lewat buku ini, kita diajak melihat berbagai elemen (juga paradoks) dari kehidupan seorang penari Ronggeng bernama Srintil.

Namaku Hiroko- Nh Dini
Disini, Nh Dini bercerita tentang Hiroko, seorang perempuan muda dari sebuah desa kecil di Jepang. Daya tarik buku ini adalah perjalanan cadas Hiroko dan perkembangan karakternya dalam mencapai cita-cita.

Gadis Pantai- Pramoedya Ananta Toer
Novel ini bercerita mengenai perempuan muda dari desa nelayan yang terpaksa menikah dengan priyayi. Gadis Pantai menuturkan gambaran mengenai situasi feodalisme di daerah Jawa pada zaman dulu. Dan saya baru tahu bahwa cerita ini terinspirasi dari nenek Pram sendiri.

Untuk Perempuan Biasa- Yours truly
Kumpulan prosa-prosa pendek yang membahas berbagai isu perempuan, khususnya yang dipengaruhi oleh konstruk sosial dan budaya di Indonesia.

Semoga rekomendasi saya memperkaya wawasan literasi teman-teman semua.

Selamat merakayan Hari perempuan Internasional dan wujudkan #SetaraSejahtera!

Nov 5, 2024

On Books That Your Heart Clutches

I first read "Dear Ijawele, or a Feminist Manifesto in Fifteen Suggestions" in 2002, and Chimamanda Ngozi Adichie has since captured my heart.


This year, I sink my nose to inhale Purple Hibiscus which tells the story of Kambili and her older brother Jaja, who lead a privileged life in Enugu, Nigeria, sheltered from life's troubles and truth. 

Her works were not only raw and ingratiating but also invested with a profound sense of honesty that resonated deeply with me. 


Captivated by her style, I recently borrowed "The Thing Around Your Neck" from the library. It is a poignant collection of short stories that intricately maps the experiences of Nigerian women as they navigate the complexities of love—or the lack thereof—along with the heart-wrenching themes of loss and the everyday struggles they encounter in a challenging world. The depth and authenticity of these narratives invite readers to reflect on the resilience of women in the face of adversity.


Have you read any of her works? How do you recover from it?








Nov 1, 2024

**Disclaimer:** These are pictures from last week. I am recovering well.

In recent months, I have gone through symptoms of exhaustion and stress that caused me Gastroesophageal reflux and persistent nerve problems. While I spare you the details, I want to share how a visit from my friend, a servant of God, unshackled my perspective.

I became consumed by my current struggles and the themes of my first published book, which felt suffocating amidst the facts, real characters, and its relevance today. This fixation affected me deeply, especially as I received messages from people sharing similar hardships. I was overwhelmed by tragedy and negative news.

During her visit, while I was hospitalized, my friend Tracy, a servant of God,  said something that struck me: "We often talk about our ten percent tithe, but what about dedicating ten percent of our time to God through prayer, reading, watching uplifting movies, and spending time with supportive friends?" 

I realized I had been investing my energy and time in worldly pursuits. 

While some of these activities seemed beneficial, I questioned how reading a single Bible passage on my way out the door would impact my growth. What kind of growth could I expect, and how could I find the strength and fuel to keep going and fulfill my purpose?

So here I am. As I improve my physical health, I am also starting to make changes with my "tithe" of time dedicated to God. I trust that He has ordered my steps.

PS: Thank you, Tracy, for your time and words. My husband for standing by my side through my ups and downs. Also to my bestfriend, Yosefine, thank you for being there ALL THE WAY. 


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...