Apr 25, 2010

Goodbye Jakarta

In a few days, I will be moving to Bali. Leaving my hometown, my family, my friends. I have this job offer that is too irresistible to pass on to. A job that is more than just a title but also my passion. I know things will be very very different. I will be there all alone with my twisted mind, will have so many adjustments and some getting used too. Am scared as hell. But I want to do this. Here are some pictures from the cute little farewell party my friends arranged for me. I love you, beautiful people. Goodbye for now...

My lovely sweet crazy friends
a closer look
They gave me two pairs of flats in shocking color!
And an oreo cheese cake with my fave line on it

Apr 2, 2010

Sapardi Djoko Damono

Need I say more on how much i admire this exquisite and extraordinary noble poet?




 
Sapardi Djoko Damono (born March 20, 1940 in SurakartaCentral Java) is an Indonesian poet known for lyrical poems.[1] His best known works include Hujan Bulan Juni and Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari (Walking to the West in the Morning). He is a professor at the University of Indonesia, teaching Literature in the Faculty of Letters, University of Indonesia.

There it says: Untuk Tressabel 28/03/10




Damono's extensive and intensive involvement in the university has borne him the unofficial title 'Professor of Indonesian Poets'. He was once elected dean of the faculty.
He was a founding member of the Lontar Foundation.

Mar 21, 2010

Sudah Lima Belas Tahun aku tak Bertemu Ibu

Sudah lima Belas Tahun aku tak Bertemu Ibu
Aku tau namanya,aku tau rupanya
Aku juga tau siapa kekasih hatinya

Aku tau Ibu sedang terluka
Lagi-lagi,cinta Ibu bertepuk sebelah tangan
Padahal kata angin,kata hujan, cinta ibu itu lebih sejuk desirannya dan lebih deras curahannya.
Dibanding angin, dibanding hujan.


Aku ingin bertanya apa kabarnya, walau aku sudah tau
Aku ingin menyimpan kelembutan suaranya, sehingga bisa kuputar untuk melepas rindu
Merekam sinar matanya yang seperti tersesat, dan berusaha mencari binarnya yang kian pudar…

Sudah lima belas tahun aku tak bertemu Ibu

Aku bisa mendengar doa-doanya
Aku melihat bilur-bilur luka yang ia tutupi,aku ingin berbisik agar Ibu pergi saja..
susul aku kalau memang Ibu bisa…
Jangan mengemis lagi soal cinta…
Karena yang ditawarkan manusia memang tak ada yang sempurna

Kalau kehidupan menyakitimu lagi ibu , aku ingin ibu bisa melawannya
Tapi, karena cinta ibu lebih deras dari hujankah?... Maka ibu hanya menangis dalam diam? Dalam ketakutan

Jangan takut Ibu.. jangan takut
Aku saja waktu kecil dulu, pernah meronta sejadi jadinya nya saat ada yang berusaha melukaiku
Tanganku bahkan belum sempurna saat itu, tapi aku berjuang…Teriakku tanpa suara, tangisku tak ber air mata..
Sampai titik darah penghabisan memaksaku untuk larut dalam kejamnya takdir kehidupan.
Kemana Ibu saat itu?.. kenapa tiada membelaku?

Sudah lima belas tahun aku tak bertemu Ibu
Aku masih bisa mengingat debar jantungnya yang sempat jadi pengantar tidurku dulu
Masih bisa mendengar raungan kesakitannya saat Ibu sengaja melepaskan aku pergi
Demi kehidupan wajar yang kini kerap melukaimu?

Sudah lima belas tahun aku tak bertemu Ibu
Aku tak kunjung beraga pun jiwaku terlalu dini menua
Aku tergoda untuk merayu ibu datang, menemani tidurku panjangku yang sarat kehampaan
Tapi aku ragu….

Apakah ini karena rindu atau karena dendamku?

Menyoal Perubahan


Apa kabar?
Kemarin saya bertemu dengan seorang sahabat lama. Definisi lama disini bukan karena kami berkawan dari masa kanak-kanak.. Kami bahkan belum pernah tinggal di lingkungan yang sama dalam waktu lebih dari beberapa bulan.. Pertemuan-pertemuan saya dan kawan lama saya ini bahkan masih bisa dihitung dengan jari (kaki dan tangan). Tapi saya tahu,kami pantas menyandang nama itu.
Karena lama bukan cuma punya waktu. Lama bisa jadi milik kedalaman, kemudahan kita bisa bercakap cakap lagi tanpa repot mengejar apa yang sudah terlewat,minim kecanggungan dan tak sarat dengan usaha saling membanggakan diri.
Singkatnya,setelah bertahun tak kunjung sua...akhirnya kita bertemu lagi. Dan katanya "kamu tak banyak berubah" (Mungkin karena hidung saya tak mendadak mancung,kulit saya yang mewakili negri ini juga tak berubah jadi bening dan badan saya juga tak sekonyong konyong jadi langsing )
Dan utar saya "Kamu juga". Dan kepala kami setuju akan keduanya. Dan kami tertawa.
Saya belum pernah berpikir bahwa waktu bertahun, tempaan berbagai hal, pendidikan, pekerjaan, kehilangan,sakit atau kebahagiaan...mungkin pada satu titik akan mengembalikan kita pada diri kita yang sesungguhnya. Mungkin kawan lama saya ini tidak akan berujar seperti itu kalau kita bertemu tahun lalu misalnya? Atau saya dan dia memang sesungguhnya saling mengenal sejauh itu? Sedalam itu? Selama itu?
Akhirnya saya terpekur pada kata itu "perubahan". Hal yang sepenuhnya kita bisa lakoni... Kalau kita mau.
Kalau majalah fesyen memaparkan make over dramatis, saya mengerti. Tapi perubahan dalam keseharian,dalam upaya mengejar impian, dalam hal mencinta atau tidak, dalam status, dalam nilai atau iman yang kamu percaya, pastinya membutuhkan nyali dan asa yang lebih besar dari sekedar mengganti potongan rambut atau mencoba tone warna lipstik baru.
Saya baru akan menantangnya. Perubahan (bukan soal fesyen). Kawan saya terlihat cukup bersuka...Tapi saya belum sempat bercerita pada dia keseluruhannya...
Perubahan pertama. Soal status.
Belum lama ini, saya menguliti diri lapis demi lapis seakan akan saya ini bawang bombay atahu ular (dan itu sakitnya luar biasa) lewat terpaan badai yang mungkin tak terlalu besar buat sebagian orang, tetapi cukup menohok bagi saya. Terutama karena saya terkategorikan sebagai manusia yang cukup cengeng.
Oh ya, kalau-kalau kau belum tahu. Saya ini gampang sekali meneteskan buliran airmata. Entah karena bencana alam yang beritanya jadi sorotan dunia, ataupun sekedar melihat sinaran mata seekor monyet yang dipaksa tuannya beraksi konyol agar menimbulkan iba, lalu menyulurkan rupiah. Saya pernah menawarkan diri apa saya boleh membelikan sesisir pisang? Tuannya mendelik sewot. Lebih baik kasih uang Mbak, begitu kata si kerempeng itu. Saya buang muka, karena sepengetahuan saya, monyet tidak suka belanja. Buat saya atraksi topeng monyet itu sama sekali tidak ada lucunya... Menyedihkan malah. Maaf kalau saya melantur sejenak.
Kembali ke topik perubahan.
Saya sadar,betapa leganya bisa mengetahui siapa diri saya sesungguhnya. Mulai dari apa yang saya percayai,apa yang tidak… Apa yang hendak saya cari,mana yang harus saya lepaskan. Mana yang harus saya perjuangkan… apa yang harus saya relakan. Walau ibaratnya saya sudah terlanjur daftar dan ikut kursus renang untuk lalu tahu bahwa saya alergi air kolam.
Tahap berikut,menceritakannya pada kekasih-kekasih hati yang berbagi darah dengan saya. Ini cukup berat. Bukan hanya karena norma adat dan budaya atau legalitas yang terkadang lebih angkuh dari manusianya sendiri… Bukan sekedar soal peran menjadi teladan atahu kutukan.
Tetapi karena saya sangat mencintai mereka… Dan saya harap suatu saat mereka mengerti..
Saya tak lagi bisa berpura-pura. Seperti kata Arwendo Atmowiloto dalam Blakanis. "Musuh utama kejujuran bukanlah kebohongan...melainkan kepura-puraan".. 
Baik pura-pura jujur atahu sebaliknya… pura-pura patuh...pura-pura bahwa pribadi itu adalah diri saya...
Apalagi pura-pura bahagia.
Sekali lagi, itu,soal status.
Perubahan kedua... Mengejar impian dan sedikit saja tentang kebebasan. 
Saya tahu saya aman dalam sangkar ini...saya tahu saya dicintai dengan cukup,diperlakukan dengan benar,dibekali dengan aman dan teratur. Saya tahu, dan tidak mempertanyakan itu. Lalu, saya merindu pada diri saya sendiri. Rindu sampai ngilu.
Saya terlalu tua untuk baru berintrospeksi? Semoga tidak. Karena,setelah menekan segala gengsi akhirnya itu saya lakukan juga. Dan saya tahu saya harus pergi. Bukan karena penghuni lain dalam sangkar ini. Bukan karena ada beberapa kicauan yang memekakkan telinga, bukan juga karena saya terlalu lapar.
Tetapi karena saya rindu.Rindu sekali.... Pada saya yang sesungguhnya penyendiri, pada saya yang suka baca puisi, pada saya yang mungkin masih menanti pemenuhan sebuah janji...
Kawan saya sempat juga bertanya kenapa saya tidak menulis lagi. Saya bilang otak saya menjelma bodoh. Dia tertawa. Semoga bukan membenarkan. Kali ini,apa boleh saya pakai waktu sebagai alasan? Saya terseret dalam kesibukan yang belum tentu saya cintai,saya berputar pada pusaran air yang tak bisa saya mengerti. Tapi saya tak bisa merubah pusaran itu. Saya tahu. Kalau perubahan arus yang kau nanti, lebih baik kau cari sungai yang lain. Itu kata seorang bijak yang saya kenal dulu.
Jadi, kalau saya pergi, mohon pahami bahwa saya tidak sedang mengutuki jalan ini... Semua baik. Semua punya ceritanya sendiri. 
Kebetulan saja... Saya baru berbenah diri. Sedikit...
Kebetulan saja... Saya baru mengerti terkadang pilihan tak selalu hitam atahu putih. Apa sesudah ini saya akan banyak menulis lagi? Itu saya belum bisa pastikan, tapi paling tidak, surat ini lahir dari hati saya dan otak yg menumpul itu tadi. Ini,tulisan kan?
Lagipula...Saya tahu kita akan baik-baik saja. Kita hanya tidak akan mudah untuk bisa bersama sama.
Apa kita akan bertemu lagi,mungkin.
Sebelum lupa, saya harus bilang terimakasih atas perjalanan ini...Hai sahabat-sahabat... (atau bukan). Kebersamaa kita sedikit banyak menjadikan diri saya yang sekarang ini. Saya yang cengeng tapi harus jadi (sok) berani, yang penyendiri tapi mencoba bersosialisasi. Yang merasa nyaman… tapi harus belajar terbang.
Ingat... Jagai dirimu baik..sukai,cintai dirimu dengan layak...
Itu satu-satunya cara agar kau tak tersesat dalam hatimu sendiri.
Setidaknya, itu yang saya tahu.
from smmarketingbook




















Salam,
Tressabel

Dec 15, 2009

Invictus

My favorite movie this year! Invictus


Out of the night that covers me/ Black as the Pit from pole to pole/ I thank whatever gods may be/ For my unconquerable soul/ In the fell clutch of circumstance / I have not winced nor cried aloud/ Under the bludgeonings of chance/ My head is bloody, but unbowed/ Beyond this place of wrath and tears / Looms but the Horror of the shade, And yet the menace of the years Finds, and shall find, me unafraid/ It matters not how strait the gate, How charged with punishments the scroll/ I am the master of my fate/ I am the captain of my soul.
William Ernest Henley

Dec 12, 2009

Di ambang jendela sore ini

Tak banyak waktu yang bisa saya habiskan untuk sekedar memandangi serdadu-serdadu air berjatuhan dari langit…tanpa lalu memejamkan mata dan melanjutkan tidur siang. Kadang saya terlalu takut dibilang kurang kerjaan, pun saat saya sedang tidak bersama seseorang atau dua.
Tapi sore ini, bersama seorang manusia cilik berusia dua tahun tujuh bulan, mata saya terbelalak lebar dan lama di ambang jendela. Betapa hujan bisa membuat saya terpana (sekaligus meringis dalam doa agar banjir tidak memutuskan untuk mampir).

Saya terpana pada butiran transparan yang basah... pada cerita asal usulnya yang diajarkan oleh guru TK saya lewat gambar-gambar manis di papan tulis hijau. Ada gambar sumur, ada gambar awan yang menggantung... dihubungkan dengan tanda panah yang menjelaskan proses mana yang harus terjadi lebih dahulu sebelum hujan itu menampari atap rumah kita.

Tapi bukan itu yang sedang saya renungi. Tangan saya terasa hangat menggengam tangan si mungil ini. Tapi hati saya berdebar... Betapa saya selalu ingat bagaimana merdeka rasanya bisa berlarian di bawah hujan deras. Tak terlalu lampau... Terakhir kali saya main hujan, usia saya sudah jauh dari masa gambar di papan tulis hijau tadi...
Lalu saya merayu si kecil yang mulai mengoceh gusar. Tentunya setelah memastikan bahwa ibu anak ini tak akan mendelik kalau sekonyong-konyong jagoan ciliknya basah .

Ternyata ia urung. Nanti basah lalu sakit. Katanya. Sebentuk kebijakkan yang tak saya sangka sudah bercokol di kepalaya. Terus terang saya kecewa. Tapi ternyata saya masih terlalu gengsi untuk main hujan sendiri tanpa ada sekutu.

Betapa inginnya saya mengajak dia bicara.. Mengenai kebijakan yang kadang tak perlu kita bawa sampai mati.
Betapa kadang ingin menjadi cepat dewasa adalah sesuatu hal yang harus dipikirkan, apakah itu memang yang kau ingini. Bahwa tak selamanya kau bisa mengambil keputusan tanpa harus ada yang tersakiti. Bahwa segala macam petuah, self help book, kata kata bijak... pada akhirnya cukup memerikan jika harus kau tapaki. Lalu saya mulai mengkalkulasikan berapa rupiah yang sudah ter"investasikan" pada buku-buku itu.
Menyebalkan. Membosankan. Harus selalu punya tujuan.
Hahaha...

Untungnya ,saya masih bisa mengajak manusia dua tahun tujuh bulan ini menari tanpa arahan koreografer, tanpa perlu keselarasan gerak yg berarti. Saya masih bisa membacakan buku cerita tanpa harus takut terdengar merdu atau tidak, tanpa ragu oleh pelafalan bahasa asing,masih bisa menanyi bersamanya walau tak selalu berpandu pada tatanan solmisasi. Lalu tertawa sampai sakit perut, mengkhayali tenda mainannya sebagai bahtera raksasa, anjingnya adalah kuda pacuan, jajan es krim, makan mie goreng dan rebah-rebah badan.... Menyanyi lagi... tertawa sampai sakit perut lagi...

Apa saya hanya sekedar merindukan masa kecil?... Atau memang saya tak rela menjadi tua?... (karena hanya orang lain yang bisa mengkategorikan apakah saya dewasa atau tidak)

Hujan hampir berhenti. Saya dan dia beringsut meninggalkan jendela yang tiba- tiba tak lagi semenarik tadi.
Kita lanjutkan dengan nonton animasi di televisi.

Lalu saya berdoa.... (tak lagi soal banjir)
Semoga ia tak jua ingin cepat menjadi dewasa...

Cukup penolakan main hujan ini yang bisa saya terima….


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...