![]() |
| artwork from polyvore |
Nov 29, 2010
Oct 26, 2010
Cinta padamu Pertiwi
Yang awalnya, aku tau dari cerita seorang kakek, yang pernah membersihkan sisa darah pada ujung bambu runcingnya. Saat dadanya masih bidang,rambutnya masih legam,dan darah mudanya diisi gelegak hasrat penuh pembelaan.
Karena cintanya padamu pertiwi
Lalu, aku tau dari guru-guru sekolah dasar. Yang mata pelaran mereka,kuingat selalu jatuh hari senin siang. Senin yang diawali dengan penghormatan pada sang Merah Putih. Merah Putih yang dibela oleh si kakek itu. Jam pelajaran yang membuat kawanku Bardi mengantuk, yang membuat Lilis ketakutan karena entah kenapa dia selalu kesulitan menghapal nama nama pahlawan. Tetapi buatku, pelajaran itu membuatku terpana,aku terpesona dan tersihir,terbawa pada khayalan akan masa kesakitan itu.membayangkan jiwa-jiwa muda yang bersatu,meregang nyawa, demi kehormatanmu, wahai Pertiwi.
Aku tak kenal rasa sakit di telapak kaki karena terlalu lama mengantri beras, siaran radio yang kudengar adalah tembang kenamaan, bukan cerita soal posisi prajurit yang tengah bertahan. Bertahan demi cinta padamu, pertiwi.
Sekolah yang baik, menggapai cita dan berbakti pada negeri ini. Itu yang dipetuahkan padaku. Karena ratusan tahun terhanguskan sudah, dan padaku, terpatri kewajiban untuk sedikit mengambil bagian dalam melanjutkan lagi kejayaannya.
Aku mengerti indahnya perbedaan,aku dimodali budi pekerti kearifan dan kejujuran. Bukan sekedar soal jangan buang sampah sembarang dan perbedaan rumah ibadah serta pemuka agama. Aku hapal undang undang,aku berdebar saat melantangkan Pancasila dan menyanyikan gubahan Wage Rudolf Supratman.
Aku percaya, Ismail Marzuki tak main-main saat ia goreskan kalimat.." Tempat berlindung di hari tua, Sampai akhir menutup mata".. Pasti karena orang-orang besar itu cinta. Seperti aku cinta padamu,pertiwi
Lalu,langitmu menghitam lagi,kali ini oleh si kotor yang dinamai polusi,dan asap dari kemarahan dan huru hara kami sendiri. Darah-darah muda terbuang lagi, bukan karena gelegak pembelaan, tapi karena dengki.
Dengki pada perbedaan yang dulu diagungkan, dengki pada saudara sendiri.Karena keangkuhan untuk membela kuasa teragung yang takkan sampai oleh akal kami...
Radio televisi,dan masih banyak sarana teknologi lain yang seperti menghidupkan sejarah tentang posisi aman dan tidak, tentang kewaspadaan,tentang berjatuhannya korban. Bukan karena jajahan,tapi karena pemberontakkan, genangan banjir yang terlalu tinggi dan rombongan jiwa yang bersiap berperang entah untuk siapa.
Doa-doa yang dipanjatkan sarat lagi oleh ketakutan, hati manusia lupa akan artinya curang karena oleh kecurangan itu mungkin ia bisa terbang,menimba ilmu di negeri orang,untuk kembali padamu pertiwi,katanya. Kalau kau sudah aman lagi.
Mengapakah tangismu mengucur deras wahai pertiwi? Apa janji kami yang kami ingkari? Bukankan ribuan gedung pencakar langit ini salah satu bukti cinta kami? Mengapa kamu menderu? Bukankah bidak-bidak pemimpin negeri ini,dan kepeduliannya terhadap rakyat jelata membuatmu haru? (ah,dulu aku ingat diatur di pasal berapa undang-undang itu)...
Kekerasan itu, perasaan tidak aman itu, semua akan lalu.. Ada banyak pemimpin yang punya sejuta ikrar dan ribuan janji. Semoga mereka sempat menepati.
Bukankah, mereka juga cinta padamu?.
TSB.Okt,2010
Oct 24, 2010
From Rupiah-with (not that much) Love
Namaku seribu rupiah.
Ada wajah seorang kapitan besar dari kepulauan Maluku di salah satu sisiku dan danau yang juga dari kepulauan Timor sana.
Aku sering berada pada genggaman tangan anak kecil yang memakai seragam putih merah. Tak jarang, aku kusam,kusut nyaris busuk dibuat oleh genggamannya. Bagaimana tidak?. Aku sering dengan begitu saja juga dijejalkan di saku celananya untuk lalu disodorkan pada tukang jajanan, sebagai penukar kue manis atau es dan buah plastikan. Aku punya adik bungsu bernama limaratus… Sekarang, lima ratus sudah ganti pakaian. Dari logam dia, bukan dari kertas seperti aku lagi.
Aku pernah mengalami masa kejayaan pastinya. Saat dimana aku bisa bernilai satu plastik penuh belanjaan sayur mayur dan bahkan tahu serta tempe. Tapi itu dulu. Saat aku masih sering diperebutkan ibu-ibu. Mereka masih bisa memperlakukanku lebih baik. Aku dilipat manis dan lalu diselipkan pada kantong dompet plastik dengan resleting hitam.
Sekali lagi. Itu dulu.. Duluuuu sekali.
Lima ribu rupiah nama yang dihibahkan negara ini padaku, panggilanku Goceng.
Beberapa rumah makan waralaba sempat memborbardir konsumennya dengan kampanye paket makanan yang bisa ditukarkan dengan dengan menyodorkan aku. Sebongkah nasi putih, sepotong ayam goremg yang dipenuhi tepung dan segelas minuman dingin bersoda yang disesaki batu es. Satu paket, goceng saja. Aku sempat berpikir, apakah aku bisa mendapatkan royalti atas penggunaan nama panggilanku. Kenapa aku yang diputuskan menjadi tolak ukur kemampuan rakyat dan kepantasan harga makanan tadi?.
Aku sering berada di dompet anak sekolahan yang sudah pakai seragam putih biru, di kantin, di kotak amal dan lebih sering lagi, berada di dalam sebuah rumah ibadah.
Aku berpindah tangan dari seorang umat, ke dalam kantong hitam yang diedarkan ke seluruh ruangan, diiringi lagu-lagu pujian nan agung. Di kantong hitam itu aku sering bertemu rupiah bernama lain.
Si Seribu itu sering sekali muncul. Kadang aku tak mengerti, kenapa di tempat indah dan megah seperti ini si Seribu nampak tak sempat bebenah diri. Sudah kusam,lecek, koq ya berani main-main ke rumah ibadah. Dan, sejak kawan baru kami lahir, Duaribu, dia juga selalu hadir. Berebut tempat bersama seribu. Kalau aku sedang ada kesempatan, kadang aku sempat mengintip darimana kawan-kawan kusam itu berasal. Bukan dari gelandangan…bukan dari janda miskin (kalau cerita ini aku tau karena aku pernah diselipkan di kitab suci yang halamannya pas sekali memuat cerita janda miskin yang memberikan harta terakhir yang ia punya). Kawan-kawan kusam itu bahkan disulurkan oleh tangan-tangan muda nan halus, berhiaskan jam mewah… Ah, mungkin mereka hanya sedang tak sempat ambil uang lain. Kalau tidak, mana mungkin tangan cantik begitu mau menyimpan seribu lecek!
Seratus Ribu , sebutanku
Aku tak mau memulai perkenalan kita dengan menyebutkan bahwa aku anak terbesar dari keluarga rupiah kertas. Tapi itulah kenyataannya. Akulah pengisi utama mesin anjungan tunai disetiap sudut pertokoan, kantor atau ya pastinya bank. Ada juga mesin anjungan yang dipenuhi oleh adikku si Limapuluh Ribu. Akulah si merah yang jarang kusam, dan selalu jadi idaman. Aku selalu ditumpuk rapih, disusun dalam dompet kulit atau di dalam amplop cokleat untuk lalu berpindah tuan, dari seorang berdasi pada perempuan cantik yang disapa ibu,sayang,istri atau pacar. Atau dari seorang lelaki ke perempuan cantik lain yang tidak disapa dengan salah satu nama itu.
Tak jarang, yang terjadi sebaliknya, setumpuk aku berpindah tangan dari perempuan berpoles wajah tebal ke pemuda tanggung yang kuliahnya belum selesai. Bertumpuk-tumpuk aku kadang bukan hanya jadi rebutan, tapi juga jadi pembenaran akan kecurangan. Makanya aku tak suka bergerombol terus menerus. Nilaiku jadi terlalu menggiurkan.
Aku pernah berada di sebuah rumah ibadah. Hal yang jarang terjadi padaku. Saat itu aku ingat betul, saat rumah ibadah itu mulai sepi, di sebuah ruangan yang sederhana seorang muda mengeluarkanku dari pundi hitam yang penuh dengan Seribu, Dua ribu dan Lima Ribuan, untuk lalu meletakkanku pelan di meja, mengelus-elus permukaan tubuhku. Katanya, hadirku membawa arti banyak sekali bagi pembangunan gedung itu. Ia bahkan memanjatkan doa syukur agar Tuhan memberkati tangan-tangan yang sudah memasukkanku ke pundi itu.
Ah manusia, seringkali aku heran pada kalian. Karena dua malam yang lalu aku berada di nampan sebuah klub malam dan aku hanya ditukar dengan satu gelas minuman. Jadi aku heran kalau ada tempat yang bisa begitu bersyukur akan hadirku.
Namaku Rupiah.
Indukku , pastinya uang.
Yang kau cari setiap hari, yang kau perjuangkan demi kehidupan atau kematian yang lebih layak. Aku pongah, menggiurkan sekaligus mematikan. Aku bisa membuatmu gila,bahagia atau lupa keluarga, bahkan bisa membuatmu berpikir bahwa aku adalah segalanya. Bukan hanya cinta dan hati, aku bahkan bisa membuat satu benua porak-poranda. Aku sementara, kaulihat sendiri, bisa melecehkan tingkahmu kapan saja. Jadi, usah mencintaiku telalu lama…pun terlalu membara.
Ini hanya sedikit dariku supaya kau tau, masih ada cerita yang lebih menarik dibanding sekedar nilai transaksiku itu…
Love you not that much,
Rp
Oct 22, 2010
In Disguised
Ketika arahmu mengabur dan kamu tak tahu jalan pulang
Ketika kamu kedinginan, tapi berdiri terlalu dekat di pelupuk barat
Ketika kamu merasa sendirian, ditengah bingarnya pasar malam murahan
Dan kamu memaksakan diri untuk tertawa, saat perihmu semakin lebar menganga
Kamu bertahan
Ketika belahan jiwa mengancurkan hati
Ketika buah hati pergi tanpa arif dan bijakmu
Dan saat tempat peraduanmu terancam sirna
Kamu tetap mencinta
Kamu…
Yang membuatku bertanya
Sepertinya benar juga… Malaikat kadang berjubah manusia biasa?
To LMM-I miss you too much
Ketika kamu kedinginan, tapi berdiri terlalu dekat di pelupuk barat
Ketika kamu merasa sendirian, ditengah bingarnya pasar malam murahan
Dan kamu memaksakan diri untuk tertawa, saat perihmu semakin lebar menganga
Kamu bertahan
Ketika belahan jiwa mengancurkan hati
Ketika buah hati pergi tanpa arif dan bijakmu
Dan saat tempat peraduanmu terancam sirna
Kamu tetap mencinta
Kamu…
Yang membuatku bertanya
Sepertinya benar juga… Malaikat kadang berjubah manusia biasa?
To LMM-I miss you too much
Oct 6, 2010
On Parenting
Well I am not a momma yet. But I know I want to be one someday. What I understand is that it is not an easy job, no precise right or wrong on the subject and even a best seller parenting guide, can miss a thing or two. Situation, environment and culture may form a certain template on parenting which can be very different in many places or families. And do not forget educational background too. My upbringing was quite carefree. Yet, it brought us closer and closer when we grow up. Education is top priority. But, not as important as happiness and the pleasure being your very self. Hence, the megawatt smile on my face and a swell heart whenever I see my siblings and family.
- If God allows, the scenario A will be : A boy, another boy and last one a Girl: I will name my first Andersen (Andersen Emmanuel will be best), the second will be Gibran and the girl will be Kathryn. Yes there are reasons before those names which is not necessary to be publicized.
- I do not have scenario B.
- They will call me Ibu, and the father will have to agree on being addressed with Ayah.
- They will be spoiled with books... Oh yes books. I will be the kind of a mother who read them stories since they were in my tummy. Reading opens your mind, and I want my children to at least absorb that fact since the very beginning. They can decide later whether or not they want to be a bookworm. But for as long as they are living under my roof, they will be choked off with books. I currently am reading for my baby nephew whenever I visit him. He looooveeesss it.
- When it's raining outside. My kids will not waste their time staring at the clear drops over the window. They will sing and dance under the rain. With me and the father. Oh no, I never believe that dancing in the rain is going to make me sick. Nor my kids. If the sun is shinning bright, I will turn on the sprinkle and lead them to rung through it.
- I will overuse the saying of I LOVE YOU. I LOVE YOU... I LOVE YOU!
- I will tell them the story, the complete (not the bogus) chronicle of how their father and I have met. However, if I did the first move, I will probably hide that fact from my son.
- They can paint their room's wall. However they like it. Other rooms; depends on their age. But my room and our home library is out of the question.
- They will hate me for this but; NO TV in the room. (That's why you can paint the wall)
- They will spend more time outside of the house, doing mentally and physically challenging activities rather than snuggling up in the room with gadgets. I don't ban them from gadget, they have to adjust with the technology anyway. But there will be a measurement of time on that and the hours spent more will not be in gadget. And, they will be taught on how to love animals, or bugs, .... or, to fall in and out of love.
- By the time I have to let them go and to live on their own, I will ask them to tell me in the face, If I interfere too much. And promise myself not to get hurt (as much).
- Repeatedly telling them how amazing God is.
![]() |
| Joseph and I |
I will add a few more as time travels. But I will try not to delete or revise... Let's see... Never hurt to practice early right?
Sep 21, 2010
WWJS (What Would Jesus Say?)
Semakin jauh saya berada, semakin sering saya bicara dengan Joseph Kiyoshi (Achi), kemenakan saya yang usianya belum sampai 3,5 tahun. Macam-macam isi pembicaraan kami. Dari mulai kegiatan dia sehari-hari (yang jelas jauh lebih menarik dari kegiatan saya), isi makan siangnya (kalau ini saya yakin saya tak mau bertukar menu), permainan atau buku yang baru dia baca. Sampai soal cinta Tuhan Yesus yang luar biasa.
Suatu hari kami berbicara tentang mengatasi rasa takut. Katanya, dia takut sekali kalau melihat Miki Tikus yang besar dan hidup (catat: karakter ini hidup dalam otaknya yang cerdas dan murni, dan sering saya dukung lewat khayalan saya yang sedikit ngaco).
Lalu saya mulai berceloteh soal betapa kita tidak boleh kalah oleh rasa takut. Kita punya kekuatan. Saya bilang "Miki tikus itu bukan manusia."
Mungkin karena teori saya tentang mengatasi rasa takut terlalu bertele-tele, si kecil ini akhirnya tak sabar dan memotong pembicaraan saya dengan bertanya
"Kalau kata Tuhan Yesus apa Wak?".
"Kalau kata Tuhan Yesus apa Wak?".
Saya bungkam. Lalu ia melanjutkan " Tuhan Yesus bilang Achi tidak boyeh takut ya? Kan ada Tuhan Yesus wak."
Yang lalu saya balas perlahan "Iya, kata Tuhan Yesus begitu."
Yang lalu saya balas perlahan "Iya, kata Tuhan Yesus begitu."
Terus terang, ada sedikit sisipan rasa malu saat saya mendengar kalimat itu keluar dari mulut kecilnya. Di usia yang sudah memasuki kepala 3, saya bahkan sering lupa bahwa segala ketakutan alangkah tak berartinya jika saya serahkan kepada Yesus yang bukan hanya sudah mati untuk saya, Kiyoshi dan kita semua, tetapi juga yang sudah mencintai saya tanpa syarat.
Lebih jauh lagi, saya kagum karena di kepala manusia kecil ini, dia sudah tau bahwa inti atau jawaban final dari semua pertanyaan sebenarnya hanya Yesus saja. Terserah dunia mau bilang teori apa..."Anak Pintar"... "Anak pemberani"... "Kita bisa kalahkan tikus raksasa".. "Minum susu dan sayur supaya jadi kuat dan berani" dan lain-lain.
![]() |
| 1 y/o Kiyoshi- reading his first Bible |
Sementara, kita (saya) sibuk membandingkan teori dari cendikiawan A, pendapat dari motivator B, pengalaman hidup pengusaha C, ilmu dari psikolog D, self help book E dan lainnya.
Kita (saya) sibuk menghipotesakan sejauh mana teori A bisa diaplikasikan oleh pribadi berkarakter tertentu dan bagaimana efeknya jika dilakukan pada kondisi tertentu. Aaaaarrrghh!
Hasilnya? Tak jarang back to square one.
Kenapa kita (saya), dengan segala kemudahan akses, fasilitas dan ke'nyaris' sempurnaan yang kita miliki tidak bisa punya cara berpikir yang cerdik dan ringkas seperti Kiyoshi?. Yang tidak mau diribeti oleh berbagai hal lain selain inti dari jawaban atas semua pertanyaan di dunia ini?
Kenapa kita (saya), seiring berjalannya waktu dan pengalaman, justru lebih banyak terpengaruh dibandingkan berusaha jadi pengaruh? Lebih banyak terubahkan oleh dunia dibanding menjadi perubahan yang dibutuhkan oleh dunia?
Saya sering meng klaim bahwa saya kurang menyukai dunia dewasa. Di dunia dewasa, Miki Tikus tidak bisa bicara selain di layar televisi dan panggung musikal. Di dunia saya, anjing peliharaan, chipmunk dan hamster tidak bisa diajak bercerita dan Gufi (yes that Disney Goofy) tidak akan pernah bertandang ke rumah.
Di dunia dewasa... saya terlalu terbatasi untuk berkhayal, tetapi terlalu dipusingkan oleh banyaknya pilihan untuk menjawab pertanyaan dalam hidup.
Sementara di dunia Kiyoshi, selain indah dengan berbagai sahabat-sahabat ajaibnya, Kiyoshi tidak pusing harus mencari jawaban pada siapa. Dia belum kenal world-class motivator manapun, belum tau teori Law of Attraction, dia belum pernah membaca self-help book apapun.
Intinya, yang Kiyoshi tau benar kepastiannya hanya satu; Tuhan Yesus
Kita sama-sama menyadari, bahwa dengan bertambahnya usia, seiring dengan pudarnya bayangan indah mengenai dunia hewan bisa bicara, Kiyoshi dan jiwa-jiwa polos lain perlahan akan merasa mempunyai banyak pilihan lain untuknya mencari kepastian tentang berbagai hal dalam hidup. Suatu hari, ia akan bertumbuh dewasa juga.
Tetapi paling tidak, saya punya catatan kecil ini. Sekedar menjadi pengingat saya, atau jika suatu saat Kiyoshi yang dewasa membutuhkannya.
Karena pada saat itu, mungkin kita (saya) justru cenderung takut untuk bertanya "Kata Tuhan Yesus apa?"
Kita (saya) terlalu penakut untuk tahu jawabanNYA yang mungkin tak selamanya mudah bisa kita mengerti.
September 2010
![]() |
| Christmas 2010- Kiyoshi with a gift from Santa. But he then thanked Jesus for telling Santa to send him the gift :) |
Subscribe to:
Posts (Atom)





