May 8, 2011

Celebrate, Mothers!

Happy International Mother's day to all the women with this great noble role!

Mother and Child by Louis Toffoli

May 7, 2011

Striped Espadrilles

would love to have this pair from H&M

Papa can you hear me?

My dear cousin post this video of Charlotte Chruch on my profile. One amazing song by a truly talented woman. But since I have such adoration in words, I am here to post the lyric. It has touched the very inside of me. "Papa, Can You Hear Me?" is a 1983 song, performed by Barbra Streisand for the film Yentl. The song was composed by Michel Legrand, with lyrics by Alan Bergman and Marilyn Bergman.

God 
Oh God 
May the light,
Illuminate the night, the way your spirit illuminates my soul
Papa, can you hear me? 
Papa, can you see me? 
Papa, can you find me in the night? 
Papa, are you near me? 
Papa, can you hear me? 
Papa, can you help me not be frightened? 
Looking at the skies, I seem to see a million eyes 
Which ones are yours? 
Where are you now that yesterday 
Has waved goodbye and closed its door? 
The night is so much darker, 
The wind is so much colder 
The world I see is so much bigger 
Now that I'm alone 
Papa, please forgive me 
Try to understand me 
Papa, don't you know I had no choice? 
Can you hear me praying, 
Anything I'm saying, 
Even though the night is filled with voices? 
I remember ev'rything you taught me 
Ev'ry book I've ever read 
Can all the words in all the books 
Help me to face what lies ahead? 
The trees are so much taller 
And I feel so much smaller 
The moon is twice as lonely 
And the stars are half as bright 
Papa, how I love you 
Papa, how I need you 
Papa, how I miss you 
Kissing me goodnight... 


Just Because

woke up this morning and thinking bout you guys :)

May 6, 2011

Surat cinta untuk Mama

my mom and dad

Dear Mama,
I don’t always understand you. But then again, I also don’t think that it was easy for you to handle my “know it all” attitude, my mood swing, and my tendency to rebel almost everything you said. Back when I was a walking hormone in a growing 16 year old girl body.

Then time travels. And here we are. I am in my 30-ies, well 31 to be exact and you are gracefully reaching 53. We are no longer the same women who keep fighting over our most lovable Man. My Dad, that is. We no longer judge each other choices and decisions. We accept our differences.We stepped out from our long dwell on the past, we embrace future- no matter how shady it sometimes seems.

We don’t see each other as a competition no more, I see you as a personality. You see me as a friend. I see us grow.
Your say, your tears, your grief, your happiness…and the fact that you stand still, even though I know your hardships is eating you out most of the time... Elevates me…

You used to give up easily. Now that you are alone, you grow stronger everyday.
You used to be the weak one, now that you are a grandmother; we cannot imagine how that beautiful grandson of yours ever life without your crazy yet strong strong love.
You used to contra every single thing I do. And now, even at my lowest moment, you got my back.

Happy birthday, Mama. Let us celebrate every bits and pieces that God has placed around you.

Don’t give up. Not now. Especially, not you.

Love,
Proud daughter

ps: And remember, we have a full 4 days tour in Bali arranged for you at the end of this month!

Children's book for grown-ups!

from amazon

Go the F#ck to Sleep is a bedtime book for parents who live in the real world, where a few snoozing kitties and cutesy rhymes don't always send a toddler sailing blissfully off to dreamland. Profane, affectionate, and radically honest, California Book Award-winning author Adam Mansbach's verses perfectly capture the familiar--and unspoken--tribulations of putting your little angel down for the night. In the process, they open up a conversation about parenting, granting us permission to admit our frustrations, and laugh at their absurdity.
With illustrations by Ricardo Cortes, Go the Fuck to Sleep is beautiful, subversive, and pants-wettingly funny--a book for parents new, old, and expectant. You probably should not read it to your children.

May 4, 2011

Menyoal Lelucon yang tak Lucu

Berteman dengan orang dari berbagai kalangan memungkinkan kita belajar banyak. Baik mengenai karakter, budaya, latar belakang pendidikan ataupun bahkan soal kepercayaan dan atau nilai-nilai lain. Saya penikmat proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang bukan melulu harus saya kenyam dibangku instansi pendidikan, atau semata-mata hanya lewat buku ilmiah, atau biografi orang kenamaan yang dulu sering disodorkan oleh kakek saya.

Satu hal yang saya pelajari; titel, posisi sesorang ternyata tidak selamanya bisa saya jadikan parameter kecerdasan budaya atau estetika manusianya. Mungkin saya yang terlalu mengkotak-kotakkan orang, mungkin saya terlalu naïf, atau berharap terlalu banyak dari penghuni-penghuni dunia yang ada di sekitar saya. Yang jelas, saya mengira pertemanan saya sudah cukup tersaring dan tertata dan saya tidak akan memiliki baik satu atau dua teman yang punya kebiasaan : Mengirimkan lelucon yang mengandung mengandung unsur pronografi.

Satu atau dua lelucon , saya masih bisa mengabaikannya. Buat saya, pilihan "end chat”pada fitur pesan singkat di ponsel pintar sangat berguna adanya. Tapi lama kelamaan, setiap lelucon yang semakin sering dikirimkan bukan hanya menjadikan saya mulai menilai si pengirim ini seorang pervert, tetapi juga membuat saya mampu memvisualisasikan dia sebagai orang yang kurang punya pendidikan soal etika dan bukan tidak mungkin- kurang menghargai perempuan. Mungkin dia lupa, mahkluk yang melahirkan dia itu, perempuan.

Jangan salah, saya penyuka lelucon. Bagi saya, tanpa selera humor, dunia ini bisa jadi lebih panas daripada kenyataannya. Tapi sayangnya lelucon mengandung unsur pornografi hanya akan menjadikan perempuan sebagai objek seks semata, sebagai yang diminta, sebagai yang di eksplotasi dan seperti tidak punya jiwa. Bukan urusan saya jika selera humor kita berbeda. Bukan masalah saya jika hanya hal itu yang ada di otak mereka.  Tapi, menjadi pemikiran saya jika hal itu disebarkan, dan bukan tidak mungkin kalau kita bisa mengkategorikannya sebagai bibit-bibit pelecehan, cikal bakal tindak kekerasan.

Tidak sedikit perempuan yang memilih untuk menjadi praktisi dalam dunia prostistusi, terlibat cinta terlarang, atau jadi "simpanan". Ya, ini soal pilihan. Dan saya tidak berada pada posisi untuk menghakimi. Saya bicara soal saya pribadi yang memilih untuk tidak mempermudah semakin besarnya komoditas perempuan jadi barang dagangan. Sekecil apapun efek dari catatan pribadi ini.

Catatan ini juga bukan untuk kaum pria. Cara memberhentikan- atau paling tidak mengurangi "pemakluman" dunia ini menjadikan perempuan sebagai objek, tidak cukup hanya lewat wacana. Perempuannya yang harus bersikap. Saya memilih untuk tidak terlalu mengakrabi pribadi yang menggembar –gemborkan lelucon soal perempuan, saya memilih untuk tidak tertawa jika lelucon seperti itu disampaikan, saya memilih untuk bersuara kalau tersakiti, saya memilih untuk lebih sedikit memiliki teman tapi saya tahu;  saya, perempuan, menempati tempat yang benar di mata mereka. Bukan minta diperlakukan sebagai putri raja, … hanya diperlakukan dengan benar.Itu sudah cukup untuk jadi landasan. Walau sepertinya saat ini, itu sudah terdengar sebagai permintaan yang berlebihan?

reducing violence against women


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...